Gagasan pemerintah untuk menerapkan Work From Home (WFH) rutin usai Lebaran 2026 dengan tujuan menghemat BBM ternyata tak luput dari sorotan. Bukan tanpa alasan. Sejumlah pengamat justru melihatnya sebagai langkah yang terlalu sederhana untuk mengatasi persoalan energi yang jauh lebih rumit.
Gambar: Ilustrasi orang bekerja dari rumah. (Foto: Inews Media Group)
“WFH satu hari per pekan bisa membantu, tetapi tidak bisa berdiri sendiri sebagai kebijakan penghematan energi nasional,” tegas Achmad Nur Hidayat, ekonom dan pakar kebijakan publik dari UPN Veteran Jakarta.
Menurutnya, kebijakan itu cuma menyentuh satu sisi kecil masalah: perjalanan komuter pekerja kantoran. Padahal, borosnya pemakaian energi di negeri ini punya akar yang lebih dalam dan bersifat struktural. Analisisnya itu dikutip Selasa (24/3/2026).
Di sisi lain, ada risiko nyata jika pemerintah menganggap WFH sebagai solusi instan. Achmad membuat perumpamaan yang gamblang: ini ibarat menaruh ember di bawah atap bocor. Air memang tertampung, tapi lubangnya sendiri tak kunjung ditambal.
Belum lagi soal perpindahan konsumsi energi. Penghematan dari sektor transportasi bisa-bisa hanya berpindah ke sektor rumah tangga. Bayangkan saja, pemakaian listrik dan internet yang melonjak saat semua orang mengerjakan tugas dari rumah.
Artikel Terkait
Arab Saudi Tegaskan Keamanan Domestik Kondusif, Indonesia Siapkan Skenario Cadangan untuk Haji
Bappisus Ungkap Latar Belakang Program Sekolah Rakyat Gratis Prabowo
Pemerintah Bahas Penyesuaian Kebijakan Energi dan Stimulus Ekonomi
Bus Mogok Picu Kemacetan 9,7 Km di Arus Balik Lingkar Gentong