Di Balik Ketegangan, Negosiasi Rahasia AS-Iran Terungkap dan Berlanjut

- Selasa, 24 Maret 2026 | 11:00 WIB
Di Balik Ketegangan, Negosiasi Rahasia AS-Iran Terungkap dan Berlanjut

Negosiasi Diam-Diam AS-Iran Terungkap, Trump Buka Suara

WASHINGTON – Kabar mengejutkan datang dari Presiden AS Donald Trump. Di tengah tensi tinggi dan ancaman serangan yang sempat menggantung, Trump mengungkap bahwa negosiasi dengan Iran ternyata sudah berjalan. Padahal, sebelumnya suasana terasa begitu buntu, seolah pintu dialog tertutup rapat.

Itulah sebabnya, ancaman AS untuk menyerang pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran yang seharusnya dieksekusi Senin malam lalu akhirnya ditunda. Ingat, Trump sebelumnya memberi ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz.

Namun begitu, di balik ketegangan yang memanas, rupanya komunikasi antara kedua negara ini masih mengalir. Setidaknya, itu yang diakui Trump sendiri.

Menurut laporan portal Axios yang mengutip seorang pejabat senior Israel, negosiasi AS-Iran akan terus berlanjut sepanjang pekan ini. Bahkan, pertemuan lanjutan antara kedua delegasi direncanakan berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan mendatang. Pakistan disebut-sebut bertindak sebagai salah satu mediator.

Tapi bukan cuma Pakistan. Laporan terpisah dari Al Jazeera, yang menyandarkan informasi pada sumber di tubuh pejabat Iran, menyebut peran Mesir dan Turki. Kedua negara itu ikut menjembatani, mencoba menengahi konflik yang memanas antara Washington dan Tehran.

Dari sisi AS, kemungkinan besar akan diwakili oleh Wakil Presiden JD Vance, Utusan Khusus Steve Witkoff, serta penasihat setia Trump, Jared Kushner. Sementara Iran mengirimkan tim yang dipimpin langsung oleh ketua parlemen mereka, Mohammad Bagher Ghalibaf.

Trump mengklaim pihak Iran-lah yang lebih dulu menghubungi AS untuk bicara selama akhir pekan. “Kami sedang berurusan dengan seseorang yang sangat dihormati di Iran,” ujarnya, sambil menegaskan bahwa itu bukan Pemimpin Tertinggi mereka, Mojtaba Khamenei.

Pembicaraan lewat telepon diperkirakan masih berlangsung sepanjang pekan ini, sambil menunggu pertemuan langsung segera direalisasikan.

Menurut penggalian Al Jazeera, peran Mesir dan Turki sebagai perantara ini cukup krusial. Mereka menyampaikan pesan bolak-balik, dengan satu tujuan utama: meredakan ketegangan. Pertukaran komunikasi tidak langsung ini masih berjalan, meski jalan damainya tak mulus.

AS disebut telah menolak dua syarat utama dari Iran: soal tuntutan ganti rugi atas serangan yang pernah terjadi, dan pengakuan bahwa AS-lah yang melakukan agresi. Di sisi lain, opsi ekstrem seperti blokade total Selat Hormuz dan pemasangan ranjau laut, konon masih terbuka dan jadi bahan pertimbangan Iran.

Jadi, situasinya rumit. Di permukaan, ancaman dan postur militer masih menganga. Tapi di belakang layar, diplomasi diam-diam bekerja, dengan beberapa negara turut serta mencoba mencegah eskalasi yang lebih buruk.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar