"Ini sebenarnya membuat (harga) emas itu tergelincir, dan investor itu berpindah ke safe haven nya dolar. Karena yang kelihatan kenaikannya cukup tajam bukan crude oil, tapi brent crude oil, yang berdampak terhadap inflasi,"
sambung Ibrahim menerangkan situasi yang semakin ruwet.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, juga jadi bayang-bayang yang mencemaskan. Eskalasi konflik yang melibatkan negara-negara besar membuat pasar gelisah. Alih-alih emas, instrumen likuid seperti dolar AS jadi pilihan yang lebih praktis di tengah gejolak.
Tapi jangan salah. Ibrahim menegaskan bahwa semua pelemahan ini sifatnya sementara. Dia masih optimis. Begitu tekanan dolar mereda dan momentum baru muncul, emas akan bangkit kembali.
“Emas tetap menjadi safe haven dalam jangka menengah hingga panjang. Koreksi ini lebih karena faktor teknikal dan sentimen pasar global,”
tegasnya.
Lantas, bagaimana prospek ke depan? Untuk pekan mendatang, pergerakan harga emas dunia diperkirakan masih terbatas dengan kecenderungan melemah. Tapi di dalam negeri, ceritanya sedikit berbeda. Pelemahan rupiah yang diproyeksikan terjadi justru bisa jadi bantalan. Ini mungkin akan menahan laju penurunan harga logam mulia lokal, membuatnya relatif stabil di kisaran bawah Rp 3 juta per gram. Jadi, meski dunia bergejolak, pasar domestik masih punya penahan goncangan sendiri.
Artikel Terkait
Monas Ramai Dikunjungi 13.500 Orang di Hari Kedua Lebaran
Arus Mudik Lebaran 2026, Tol Solo-Yogyakarta Catat Lonjakan Tertinggi 60%
Gunung Galunggung Ramai Dikunjungi Wisatawan Saat Libur Lebaran
Ragunan Dibanjiri 30 Ribu Pengunjung di H+1 Lebaran