"Karena kepedulian tinggi dari Presiden Prabowo, Taman Nasional Tesso Nilo ini harus dikembalikan pada fungsinya sebagai taman nasional, terutama sebagai habitat gajah yang wajib kita lindungi," ujarnya.
Titiek punya catatan penting. Ia mengingatkan bahwa jika ada masyarakat yang harus direlokasi dari kawasan itu, prosesnya harus dilakukan dengan cara humanis. Jangan sampai ada paksaan atau kekerasan. Menurutnya, lokasi tempat tinggal baru harus disiapkan dulu dengan matang.
"Jangan belum apa-apa sudah diusir. Kita harus sama-sama menjaga kelestarian taman nasional ini sekaligus memperhatikan masyarakat yang tinggal di dalamnya," tuturnya.
Lalu, ada persoalan teknis yang menurut Titiek perlu solusi segera. Jumlah polisi hutan yang bertugas di kawasan seluas 81 ribu hektare itu dinilainya sangat tidak memadai. Hanya sekitar 23 orang. Bagaimana mungkin mereka bisa mengawasi wilayah sebesar itu?
Karena itulah, ia mendorong Kementerian Kehutanan untuk menggandeng Mabes Polri. Bantuan personel dari institusi tersebut diharapkan bisa mengisi kekosongan pengawasan dan menjaga kelestarian Tesso Nilo dengan lebih optimal.
"Luasnya 81 ribu hektare, sementara polisi hutan di sini hanya sekitar 23 orang. Bagaimana bisa mengawasi wilayah seluas itu? Mungkin bisa dibantu oleh Polri untuk ikut menjaga kelestarian taman nasional ini," pungkasnya.
Artikel Terkait
Pemudik Rela Begadang Demi Tiket Kereta, Stasiun Jakarta Dipadati 54 Ribu Penumpang
Lonjakan 50% Pemudik di Terminal Kampung Rambutan, Terminal Lain di Jakarta Justru Sepi
Pemerintah Finalisasi Formasi dan Skema Rekrutmen ASN 2026
Pemerintah Kaji Formasi ASN 2026 dengan Mempertimbangkan Kemampuan Fiskal