Di tengah ketegangan geopolitik yang masih menyelimuti Timur Tengah, muncul secercah kabar baik dari Selat Hormuz. Jalur sempit itu, yang selama puluhan tahun jadi urat nadi minyak dunia, konon mulai memberi ruang bagi kapal-kapal dari negara yang tak terlibat konflik untuk melintas. Ini tentu sinyal yang disambut positif oleh Indonesia.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tak menyembunyikan rasa leganya. Ia menyebut perkembangan terbaru ini sebagai 'angin segar'. Pasalnya, Iran dikabarkan membuka jalur komunikasi bagi kapal-kapal kecuali milik Israel dan AS untuk berkoordinasi sebelum melewati selat tersebut.
"Sekalipun dalam kondisi geopolitik yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda konflik di Timur Tengah itu selesai. Tapi kita sedikit mendapat angin segar dengan Selat Hormuz itu sudah mulai ada kebijakan tutup buka," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa lalu.
Bagi Indonesia, kelonggaran ini punya arti strategis. Jangan lupa, kita masih net importir minyak. Kelancaran di Selat Hormuz langsung berpengaruh pada stabilitas pasokan BBM dalam negeri dan, yang tak kalah penting, beban biaya impornya.
Artikel Terkait
Pemerintah Finalisasi Formasi dan Skema Rekrutmen ASN 2026
Pemerintah Kaji Formasi ASN 2026 dengan Mempertimbangkan Kemampuan Fiskal
Pemerintah Cairkan Bonus Atlet ASEAN Para Games 2025, Emas Perorangan Dapat Rp1 Miliar
Polres Tasikmalaya Siapkan Rest Area Terpadu dengan Klinik dan Wahana Anak untuk Pemudik