"Artinya bagi kapal-kapal, bagi negara-negara yang bukan Israel dan Amerika, itu bisa sekarang untuk terjadi komunikasi," jelas Bahlil.
Dengan mulai normalnya lalu lintas kapal di kawasan itu, risiko gangguan pasokan dan lonjakan harga energi bisa sedikit diredam. Situasi ini membantu pemerintah mengamankan stok energi domestik, terutama jelang momen konsumsi tinggi seperti Lebaran nanti.
Namun begitu, pemerintah memastikan kewaspadaan tidak kendur. Dinamika di lapangan masih sangat cair. Kebijakan buka-tutup itu bisa berubah kapan saja jika tensi geopolitik memanas kembali. Karena itu, koordinasi dengan pelaku industri, termasuk Pertamina, terus digenjot untuk mengantisipasi segala kemungkinan.
Di sisi lain, momen ini jadi pengingat keras betapa pentingnya diversifikasi sumber energi dan efisiensi konsumsi di dalam negeri. Ketergantungan pada jalur vital seperti Selat Hormuz membuat kita rentan. Jadi, meski celah akses yang ada memberi ruang untuk bernapas lega, jalan panjang menuju ketahanan energi yang mandiri masih harus ditempuh.
Artikel Terkait
Pemerintah Finalisasi Formasi dan Skema Rekrutmen ASN 2026
Pemerintah Kaji Formasi ASN 2026 dengan Mempertimbangkan Kemampuan Fiskal
Pemerintah Cairkan Bonus Atlet ASEAN Para Games 2025, Emas Perorangan Dapat Rp1 Miliar
Polres Tasikmalaya Siapkan Rest Area Terpadu dengan Klinik dan Wahana Anak untuk Pemudik