Pemudik Ramai Pilih Berangkat Malam untuk Hindari Panas dan Mokel

- Senin, 16 Maret 2026 | 21:40 WIB
Pemudik Ramai Pilih Berangkat Malam untuk Hindari Panas dan Mokel

Malam Senin di Bekasi sudah terasa berbeda. Jalur arteri Kalimalang, tepatnya di sepanjang Jalan KH Noer Ali, mulai dipadati kendaraan. Bukan aktivitas biasa, melainkan riuhnya pemudik yang memilih berangkat pada malam hari.

Alasannya klasik sih, tapi sangat masuk akal: menghindari panas terik matahari di siang hari. Perjalanan jadi lebih nyaman, kata mereka. Namun begitu, ada alasan lain yang lebih khas Ramadan.

Seperti yang diungkapkan Iman, seorang pemudik berusia 29 tahun yang ditemui di dekat traffic light BCP. Baginya, berangkat malam bukan cuma soal cuaca.

"Wah iya itu juga agar tidak mokel,"

Ucapnya sambil tertawa. Istilah 'mokel' kependekan dari 'batal puasa' memang kerap menghiasi percakapan para pemudik di bulan suci ini. Iman berencana langsung menyambangi orang tuanya begitu tiba di kampung halaman. Menurutnya, mudik tahun ini tak jauh beda dengan tahun-tahun sebelumnya.

"Setiap tahun memang pakai motor, kalau perbedaan gak ada, sama aja sih,"

Katanya lagi. Rupanya, tradisi mudik pakai motor sudah jadi pilihan tetap baginya.

Di sisi lain, suasana di simpang BCP sendiri semakin ramai. Lokasi yang jadi gerbang menuju Jalur Pantura dari Jakarta ini mulai menunjukkan tanda-tanda kepadatan. Arus kendaraan, terutama sepeda motor, terlihat mengalir deras. Yang menarik perhatian, banyak dari motor-motor itu membawa barang bawaan yang cukup banyak, bahkan berlebih. Helm digantung di sisi kiri-kanan, karung berisi barang terikat di belakang, seolah membawa seluruh isi rumah untuk dibawa pulang.

Pemandangan ini sepertinya baru awal. Malam itu, di jalan yang sama, cerita tentang menghindari mokel dan terik matahari terus berlanjut bersama deru mesin kendaraan yang tak henti.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar