Sejak konflik di Timur Tengah meledak, guncangan ekonomi langsung terasa. Negara-negara Arab di kawasan Teluk, menurut perkiraan terbaru, sudah kehilangan pendapatan minyak dan gas yang fantastis: sekitar 15,1 miliar dolar AS. Kalau dirupiahkan, angkanya mencapai Rp256 triliun. Sungguh, kerugian yang luar biasa besar.
Angka itu datang dari analis komoditas Kpler, seperti dilaporkan Oilprice akhir pekan lalu. Inti masalahnya ada di Selat Hormuz. Jalur air vital itu praktis tutup, memutus aliran komoditas energi.
Bayangkan, jutaan barel minyak mentah dan produk olahan tiap harinya terhambat. Belum lagi pasokan gas alam cair global, sekitar seperlimanya, ikut mandek. Efek domino dari penutupan ini langsung menghantam kas negara-negara produsen.
Rinciannya begini: sejak perang AS dan Israel dengan Iran berkecamuk, kerugian harian mereka mencapai 1,2 miliar dolar. Setiap hari. Qatar, misalnya, terpaksa menghentikan operasi di Ras Laffan kompleks pencairan gas terbesar di dunia dan mengirimkan pemberitahuan "force majeure" kepada para pembelinya. Situasinya darurat.
Artikel Terkait
Wapres Gibran Imbau Keselamatan dan Kesehatan Saat Mudik Lebaran 2026
KPK Ungkap Modus Pemerasan Bupati Cilacap Pakai Ancaman Mutasi Pejabat
Kapolri Tinjau Kesiapan Mudik Lebaran 2026 di Stasiun Surabaya Gubeng
DBS dan Mister Aladin Tawarkan Diskon hingga Rp250.000 untuk Liburan