Di sisi lain, nasib minyak tak kalah suram. Produksi harian global anjlok sekitar 10 persen karena gangguan dari kawasan Teluk. Upaya mencari rute alternatif, seperti lewat terminal Yanbu milik Arab Saudi di Laut Merah, ternyata belum mampu menutupi kekosongan dari Selat Hormuz. Kapasitasnya tak sebanding.
Dari segi nominal, Arab Saudi memang menanggung kerugian terbesar. Tapi kalau dilihat dari dampak terhadap keuangan pemerintah, Irak-lah yang paling terpukul.
Negeri itu sangat bergantung pada uang dari minyak. Berbeda dengan Kuwait atau Arab Saudi yang punya bantalan cadangan kekayaan yang tebal, Irak jauh lebih rentan. Pukulan ini terasa sangat berat bagi Baghdad.
Jadi, selain konflik bersenjata, perang ekonomi juga sedang berlangsung. Dan korban pertamanya adalah pendapatan negara yang menguap miliaran dolar per hari.
Artikel Terkait
Wapres Gibran Imbau Keselamatan dan Kesehatan Saat Mudik Lebaran 2026
KPK Ungkap Modus Pemerasan Bupati Cilacap Pakai Ancaman Mutasi Pejabat
Kapolri Tinjau Kesiapan Mudik Lebaran 2026 di Stasiun Surabaya Gubeng
DBS dan Mister Aladin Tawarkan Diskon hingga Rp250.000 untuk Liburan