Latar belakangnya adalah gejolak harga minyak dunia yang tak stabil. Pemicu utamanya adalah konflik bersenjata antara AS dan Israel melawan Iran. Situasi jadi makin runyam karena Selat Hormuz jalur vital pengiriman minyak global terganggu aktivitasnya. Kekacauan di titik itu langsung berimbas pada harga.
Di sisi lain, laporan dari sejumlah media, termasuk The Financial Times, mengonfirmasi bahwa Departemen Keuangan AS memang sedang mempertimbangkan beberapa opsi. Salah satunya adalah turun tangan langsung di pasar derivatif atau berjangka untuk meredam kenaikan harga. Nah, rencana inilah yang ditentang habis-habisan oleh Duffy.
Peringatan dari bos CME Group ini jelas punya bobot. Dia khawatir intervensi pemerintah akan merusak mekanisme pasar yang selama ini berjalan. Pada akhirnya, upaya menstabilkan harga dalam jangka pendek justru bisa memicu ketidakstabilan yang lebih parah dan berlangsung lama. Semuanya tergantung pada langkah pemerintah selanjutnya.
Artikel Terkait
AS Kerahkan 2.500 Marinir dari Jepang ke Timur Tengah, Kurangi Posisi di Indo-Pasifik
Lebaran 2026: Baru 23% Kendaraan Keluar Jakarta, Gelombang Utama Mudik Masih Menanti
Polisi Dugaan Pelaku Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Lebih dari Dua Orang
Negara-Negara Arab Teluk Rugi Rp256 Triliun Akibat Penutupan Selat Hormuz