Washington DC Peringatan keras datang dari Presiden Amerika Serikat. Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya, bahkan pesimisme, terhadap pemimpin baru Iran. Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, baru saja ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi. Bagi Gedung Putih, langkah Teheran ini terasa seperti perlawanan terbuka.
“Saya tidak melalui semua ini hanya untuk berakhir dengan Khamenei yang lain,” ujar Trump dalam wawancara dengan majalah Time, Selasa (10/3/2026).
Suaranya terdengar kesal. Dua hari sebelum pengumuman resmi, dia sudah memperingatkan agar putra Khamenei itu tidak dipilih. Tapi peringatannya diabaikan. Trump pun menyebut keputusan Majelis Ahli Iran sebagai sebuah “kesalahan besar.”
Namun begitu, situasinya memang sudah memanas. Penunjukan Mojtaba yang berusia 56 tahun ini terjadi di tengah eskalasi yang mencekam. Setelah serangan gabungan AS-Israel pada akhir Februari yang menewaskan Ali Khamenei, Iran membalas. Ratusan rudal dan drone diluncurkan, sementara Selat Hormuz ditutup. Dunia menahan napas.
Trump tak ragu memberikan sinyalemen paling keras. “Saya tidak tahu apakah dia akan bertahan lama. Saya pikir mereka membuat kesalahan,” katanya. Kalimat itu dianggap banyak pengamat sebagai isyarat bahwa pemimpin baru Iran bisa jadi target operasi militer berikutnya.
Dukungan untuk sikap keras itu datang dari sekutu Republik. Senator Lindsey Graham, misalnya, menyebut Mojtaba bukanlah sosok perubahan.
“Hanya masalah waktu sebelum ia mengalami nasib yang sama dengan ayahnya,” tulis Graham di platform X.
Di sisi lain, justru kecaman dari Washington ini yang dikhawatirkan akan menguatkan posisi Mojtaba di dalam negeri. Ryan Costello dari National Iranian American Council (NIAC) punya analisis menarik. Menurutnya, intervensi verbal Trump justru mempersatukan sentimen nasionalisme di Iran.
“Pilihannya bukan lagi tentang siapa kandidat terbaik,” jelas Costello kepada Al Jazeera, “melainkan tentang apa yang harus dilakukan untuk melindungi kedaulatan Iran dari agresi luar.”
Sentimen itu terasa di Teheran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan dengan lantang bahwa masa depan negara mereka akan ditentukan oleh rakyatnya sendiri, bukan oleh kekuatan asing.
Sementara retorika memanas, dampak nyata sudah terasa di pasar global. Perang yang kini melibatkan Hizbullah di Lebanon telah mendorong harga minyak mentah melonjak. Penutupan Selat Hormuz adalah pukulan telak bagi pasokan energi dunia.
Meski demikian, Trump bersikukuh. Dalam wawancara dengan CBS News, dia menuntut “penyerahan tanpa syarat” dari Iran dan mengklaim kekuatan militer mereka sudah lumpuh. Perang, katanya, berjalan lebih cepat dari perkiraan.
Tapi di Washington sendiri, suara kritis mulai terdengar. Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Jake Auchincloss, mempertanyakan visi dan akhir dari semua ini.
“Presiden mengganti diktator teroris berusia 86 tahun dengan diktator teroris berusia 56 tahun. Apa rencana sebenarnya?” tulisnya.
Kekhawatirannya jelas: apakah perubahan kepemimpinan ini justru akan memacu program nuklir Iran lebih cepat lagi? Pertanyaan itu masih menggantung, sementara ketegangan terus meningkat.
Artikel Terkait
Harga Hewan Kurban di Bojonegoro Naik Rp1–3 Juta per Ekor Jelang Iduladha, Stok Aman
Wakil Ketua Komisi I DPR Desak PBB Evaluasi Perlindungan Pasukan UNIFIL usai Praka Rico Gugur di Lebanon
Polisi Sita 188,91 Gram Sabu dari Pria di Daan Mogot, Jakarta Barat
Polisi Pastikan Video Pocong Viral di Depok adalah Hoax