Militer Amerika Serikat baru saja memindahkan ribuan marinirnya dari Jepang ke kawasan Timur Tengah. Jumlahnya sekitar 2.500 personel, bersama setidaknya satu kapal serbu amfibi. Langkah ini terjadi di tengah ketegangan yang memanas antara AS, Israel, dan Iran.
Menurut laporan The Wall Street Journal dan Fox News, pasukan yang dikerahkan adalah Unit Ekspedisi Marinir ke-31. Mereka biasanya bermarkas di Okinawa, Jepang. Nah, kapal yang digunakan adalah USS Tripoli, yang berangkat dari pangkalan di Sasebo, Prefektur Nagasaki. Perkiraannya, kapal ini bakal tiba di tujuan dalam satu atau dua minggu ke depan.
Presiden AS Donald Trump sendiri sudah bersumpah bakal meningkatkan aksi militer terhadap Iran. Perang sudah memasuki minggu ketiga. Bahkan, Trump sempat mengisyaratkan kemungkinan mengerahkan pasukan darat wacana yang bikin banyak pihak tegang.
Di sisi lain, pengiriman pasukan ini punya konsekuensi. Ia mengurangi kehadiran militer AS di kawasan Indo-Pasifik. Padahal, saat yang bersamaan, Iran justru makin gencar melancarkan serangan di sekitar Selat Hormuz. Jalur sempit itu vital, jadi lalu lintas bagi sekitar seperlima minyak mentah dunia.
Wajar saja kalau langkah Washington ini bikin sekutu-sekutunya di Asia waswas. Kekhawatiran soal keamanan nasional pun muncul. Bahkan, ada kabar dari Washington Post dan media Korea Selatan bahwa AS juga berencana memindahkan sebagian sistem pertahanan rudal dari "Negeri Ginseng" itu ke Timur Tengah. Kalau benar, artinya fokus AS benar-benar bergeser.
Jadi, pemindahan besar-besaran aset militer ini jelas bukan hal sepele. Ia menandai sebuah eskalasi baru dan mengubah peta ketegangan di dua kawasan sekaligus.
Artikel Terkait
Influencer China Bai Bing Didenda Rp47,98 Miliar Akibat Kurang Bayar Pajak
Uni Eropa Dakwa Meta Gagal Lindungi Anak di Bawah 13 Tahun dari Akses Facebook dan Instagram
Prabowo Ledek Trenggono Soal Pingsan dan Sindir Berat Badan Kapolri di Groundbreaking Hilirisasi
Uji Coba Operasional KRL Rute Bekasi–Cikarang Berjalan Lancar Pasca Insiden Tabrakan Maut