Prabowo Terkejut, Pertamina Punya 200 Anak Cucu Perusahaan

- Rabu, 11 Maret 2026 | 22:22 WIB
Prabowo Terkejut, Pertamina Punya 200 Anak Cucu Perusahaan

Presiden Prabowo Subianto mengaku terkejut. Betapa tidak, ternyata Pertamina memiliki sekitar 200 anak dan cucu perusahaan. Fakta ini ia sampaikan dalam acara Tasyakuran HUT pertama Danantara Indonesia, Rabu lalu. Menurutnya, kondisi ini jadi sinyal jelas bahwa konsolidasi besar-besaran di tubuh BUMN memang mendesak untuk dilakukan.

Dalam sambutannya, Prabowo sedikit menengok ke belakang. Ia bercerita, banyak BUMN lahir dari kebutuhan mendesak bangsa di masa awal kemerdekaan. Saat itu, negara hampir tak punya apa-apa.

"Kita tidak punya industri tekstil, negara mendirikan Patal Senayan. Tidak punya industri kertas, kita butuh buku, anak-anak perlu belajar, negara mendirikan pabrik kertas," ujarnya.

"Belum lagi soal obat-obatan. Waktu merdeka, kita juga tak punya. Akhirnya negara pun mendirikan perusahaan-perusahaan farma," tambah Prabowo.

Niat baik para pendiri bangsa itu, lanjutnya, memang mulia. Tapi seiring waktu, berkembanglah kompleksitas yang mungkin tak terbayangkan dulu. Perusahaan negara seperti Pertamina, yang dibentuk untuk mengelola minyak dan mineral, akhirnya punya rantai usaha yang begitu panjang.

Namun begitu, yang membuatnya geleng-geleng justru aturan yang menyertainya.

"Saya kaget, Pertamina punya 200 anak dan cucu perusahaan. Dan aneh lagi, ada peraturan-peraturan yang lebih aneh lagi. Kalau BUMN boleh diaudit oleh negara, katanya kalau cucu perusahaan enggak boleh diaudit. Peraturan dari mana ini?" tegas Prabowo.

Karena itulah, melalui Danantara, pemerintah bertekad mempercepat langkah penataan. Jumlah entitas BUMN yang kini mencapai sekitar 1.000 akan dipangkas drastis. Targetnya, tinggal sekitar 200 entitas yang tersisa setelah proses penggabungan dan penataan ulang.

"Premis kita ternyata bener," pungkasnya. Konsolidasi, satu manajemen yang rasional, dengan standar-standar terbaik dunia, itulah jalan yang akan ditempuh.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar