"Ini jadi fondasi untuk memperkuat model bisnis yang tahan banting," ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, orientasi ini menjadi pijakan agar pertumbuhan bisnis bank berjalan selaras dengan agenda transisi menuju ekonomi rendah karbon. Sekaligus, tetap punya misi memperluas inklusi keuangan.
Menurut Aquarius, pendekatan BRI menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar untuk memenuhi regulasi. "Ini telah menjadi bagian integral dari strategi pertumbuhan Bank," ungkapnya. Integrasi itu, klaimnya, memperkuat ketahanan bisnis, memperluas akses pembiayaan yang bertanggung jawab, dan memberi nilai tambah sosial serta lingkungan bagi semua pemangku kepentingan.
Komitmen BRI dalam hal ini rupanya juga mendapat pengakuan dari luar. Beberapa lembaga pemeringkat ESG internasional memberi catatan positif. Misalnya, S&P Global memberikan skor 74 dari 100 dalam Corporate Sustainability Assessment (CSA) 2025. BRI juga tercatat sebagai Sustainability Yearbook Member selama empat tahun berturut-turut, periode 2023–2026.
Selain itu, Sustainalytics menempatkan BRI pada kategori Low ESG Risk. Sementara MSCI memberikan peringkat A untuk performa ESG perseroan.
Semua upaya dan capaian ini, seperti disinggung sebelumnya, sejalan dengan Asta Cita pemerintah yang menekankan harmoni dengan lingkungan, alam, dan budaya. Sebuah langkah yang memang kompleks, tapi perlahan mulai menunjukkan bentuknya.
Artikel Terkait
Kuota Mudik Gratis DKI Jakarta Bertambah Jadi 30.774 Orang
DPRD DKI Dorong Perda Pembangunan Keluarga Tangguh Antisipasi Dampak Perceraian
KPK Tangkap Bupati dan Wakil Bupati Rejang Lebong Terkait Dugaan Suap Proyek
AS Gunakan Rudal PrSM untuk Pertama Kali dalam Serangan ke Iran