Kemenag DKI Ingatkan Utang Jatuh Tempo Lebih Prioritas daripada Zakat Fitrah

- Selasa, 10 Maret 2026 | 13:15 WIB
Kemenag DKI Ingatkan Utang Jatuh Tempo Lebih Prioritas daripada Zakat Fitrah

Kalau sudah masuk akhir Ramadan, urusan zakat fitrah pasti jadi perhatian. Tapi, jangan sampai lupa, ada kewajiban lain yang mungkin lebih mendesak: utang. Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta baru-baru ini mengingatkan hal ini. Mereka bilang, utang yang sudah jatuh tempo harus dibayar dulu sebelum kita menunaikan zakat fitrah.

“Prioritas bayar utang yang jatuh tempo,” tegas Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Adib, seperti dikutip Antara Selasa lalu. “Ketika utang dibayar masih ada sisa harta untuk memenuhi kebutuhan makan pada malam dan hari raya Idulfitri, maka tetap wajib bayar zakat fitrah.”

Pernyataan itu cukup jelas. Zakat memang wajib, tapi jangan sampai kita berzakat sementara ada hak orang lain yang masih kita tahan.

Nah, bagaimana dengan utang yang belum jatuh tempo? Menurut penjelasan Adib, dalam kondisi seperti itu, zakat fitrah bisa diprioritaskan. Tujuannya untuk mensucikan diri sekaligus membantu mereka yang membutuhkan agar bisa merayakan hari raya dengan layak.

Zakat fitrah sendiri sebenarnya punya fungsi sosial yang kuat. Ia adalah bentuk kepedulian nyata yang waktunya cukup longgar, bisa dari awal Ramadan hingga sebelum salat Id digelar. Dasarnya adalah hadis Rasulullah SAW yang mewajibkan satu sha’ kurma atau gandum untuk setiap jiwa.

Lalu, berapa besaran zakat tahun ini? Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sudah menetapkannya lewat Surat Keputusan Nomor 14 Tahun 2026. Setiap orang wajib membayar setara dengan 2,5 kilogram atau 3,5 liter beras. Kalau dibayar tunai, nilainya sekitar Rp50 ribu per jiwa.

Di sisi lain, Adib juga menekankan makna di balik ritual ini. Zakat fitrah bukan sekadar transfer harta. Ia adalah penyucian diri setelah sebulan penuh kita menempa jiwa dengan puasa. Dengan membayarnya tepat waktu, bantuan itu bisa segera sampai ke tangan saudara kita yang kurang mampu, tepat saat kebahagiaan Idulfitri seharusnya dirasakan oleh semua orang.

Jadi, urusannya sederhana tapi prinsipil: lunasi dulu kewajiban pada manusia, baru kemudian yang langsung pada Allah. Dengan begitu, kebersihan hati dan harta bisa kita dapatkan bersamaan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar