Namun begitu, ceritanya bakal beda untuk BBM non-subsidi. Harganya akan tetap mengikuti gejolak pasar, naik-turun sesuai volatilitas yang terjadi.
Di sisi lain, soal stok nasional disebutkan aman. Ketersediaan BBM dipastikan cukup hingga 21 hari ke depan. Masalahnya justru ada di anggaran. Dengan harga minyak yang melonjak jauh di atas asumsi, ancaman pembengkakan subsidi energi jadi sangat nyata. Ini yang sedang jadi perhatian serius pemerintah.
"Problem kita sekarang bukan stok, stok tidak ada masalah, sudah ada semua," jelas Bahlil.
"Kita itu sekarang tinggal di harga. Nah kita sekarang sedang men-exercise untuk melakukan langkah yang komprehensif," tambahnya.
Data perdagangan hari itu benar-benar menunjukkan situasi mencekam. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat 13,53 persen ke level 103,2 dolar AS per barel. Sementara minyak acuan Brent malah lebih gila lagi, menguat 16,19 persen ke posisi 107,7 dolar. Angka-angka yang, jujur saja, bikin pemerintah harus berpikir ekstra keras.
Artikel Terkait
BNI Bagikan Dividen Rp13,03 Triliun dan Rencanakan Buyback Saham
Korban Tewas Konflik Iran Capai 1.255 Jiwa, Termasuk 168 Anak di Sekolah Dasar
Menteri Keuangan Tinjau Tanah Abang, Klaim Daya Beli Masih Kuat
Menteri Keuangan G7 Gelar Rapat Darurat Bahas Pelepasan Cadangan Minyak