Lautnya terlihat lengang, jauh dari kesibukan biasa. Sejak awal Maret, hanya sembilan kapal entah itu tanker minyak, kapal kargo, atau kontainer yang tercatat berhasil melintasi Selat Hormuz. Padahal, jalur sempit ini biasanya ramai oleh lalu lintas kapal dari berbagai penjuru dunia.
Data dari MarineTraffic, yang dianalisis AFP, menunjukkan betapa drastisnya penurunan ini. Perhitungannya sederhana: hanya kapal yang memancarkan sinyal di kedua sisi selat yang masuk hitungan. Tapi, angka sembilan itu mungkin saja tidak sepenuhnya akurat. Soalnya, kalkulasi ini bisa saja melewatkan kapal-kapal yang mematikan sistem pelacaknya untuk waktu yang lama, sebuah taktik yang belakangan makin sering dipakai.
Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, yang memanas akhir pekan lalu, jadi penyebab utamanya. Jalur pelayaran vital ini praktis ditutup oleh perang. Padahal, selat ini adalah urat nadi energi global. Sekitar seperlima suplai minyak mentah dunia dan gas alam cair (LNG) harus melewati titik sempit ini untuk sampai ke pasar internasional.
Akibatnya bisa ditebak. Serangan terhadap kapal-kapal yang masih nekat melintas kian meningkat, memicu kekhawatiran serius akan goncangan di ekonomi global. Ratusan kapal lainnya memilih untuk bersabar, menurunkan jangkar di kedua ujung selat, menunggu situasi yang lebih aman setelah sejumlah insiden serangan pada akhir pekan.
Namun begitu, bukan berarti lalu lintas benar-benar nol sama sekali.
Artikel Terkait
Badan Gizi Nasional Tutup Sementara 492 Dapur MBG di Sumatra karena Tak Miliki Izin Higiene
Pemerintah Siapkan Skenario Haji 2026 Antisipasi Ketegangan Timur Tengah
Jasindo Gelar Layanan Kesehatan dan Santunan untuk Jemaah Istiqlal di Ramadan
Bank Dunia: Ukraina Butuh Dana Rp9.900 Triliun untuk Rekonstruksi Pascaperang