Bank Dunia: Ukraina Butuh Dana Rp9.900 Triliun untuk Rekonstruksi Pascaperang

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 19:15 WIB
Bank Dunia: Ukraina Butuh Dana Rp9.900 Triliun untuk Rekonstruksi Pascaperang

Sudah empat tahun berlalu sejak invasi Rusia dimulai, dan luka Ukraina masih sangat dalam. Sebuah laporan terbaru dari Bank Dunia mengungkap angka yang mencengangkan: negara itu membutuhkan dana sekitar 588 miliar dolar AS untuk membangun kembali apa yang telah hancur. Kalau dirupiahkan, angkanya fantastis, nyaris menyentuh Rp9.900 triliun.

Angka itu bukan main-main. Menurut laporan yang dirilis itu, kebutuhan dana untuk pemulihan dan rekonstruksi selama sepuluh tahun ke depan terus membengkak. "Kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi terus meningkat dan sekarang diperkirakan mencapai USD587,7 miliar selama 10 tahun ke depan," begitu bunyi laporan tersebut. Jumlah itu hampir tiga kali lipat dari total PDB Ukraina sendiri, sebuah gambaran betapa beratnya beban yang harus ditanggung.

Di sisi lain, laporan lain dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebuah lembaga think tank, mencoba menghitung korban jiwa yang lebih suram. Mereka memperkirakan sekitar 140.000 tentara Ukraina telah gugur dalam empat tahun konflik ini.

Sementara untuk pihak Rusia, perkiraan korban tewas antara Februari 2022 dan Desember 2025 mencapai 325.000 tentara. Angka-angka ini, tentu saja, sulit dikonfirmasi secara independen dan sering menjadi bahan perdebatan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sendiri pernah menyebut angka yang berbeda. Dalam pernyataannya, ia mengatakan bahwa 55.000 prajuritnya telah tewas, dengan banyak lagi yang masih hilang.

Namun begitu, di balik semua statistik dan angka miliaran dolar, yang tersisa adalah sebuah bangsa yang harus bangkit dari puing-puing. Perang mungkin masih berlangsung, tapi bayangan tentang rekonstruksi yang membutuhkan biaya luar biasa besar sudah jelas terpampang. Jalan menuju pemulihan masih sangat panjang dan berliku.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar