Memang, diakui Purbaya, skenario terburuk yang mungkin terjadi adalah kenaikan harga impor yang bisa menekan defisit anggaran. Tapi jangan khawatir, pemerintah sudah siap dengan senjata andalan: pengumpulan pajak.
"Kalau impor makin parah kan, harganya mahal, mungkin akan menekan defisit. Kita pastikan saja pertama, tax collection kita, pengumpulan pajak kita dan cukai enggak ada yg bocor," kata Purbaya.
"Jadi bisa kurangi tekanan ke defisit. Kalau sudah bagus nanti kita lihat dampaknya seperti apa baru kita hitung langkah-langkah yang perlu kita lakukan," sambungnya, menggambarkan langkah antisipasi yang berjenjang.
Ia juga sedikit menanggapi pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia soal stok energi. Purbaya mencoba meluruskan asumsi stok 20 hari yang sempat beredar. Itu, katanya, hanya berlaku dalam kondisi benar-benar kritis dimana suplai terputus total sebuah skenario yang dianggapnya kecil kemungkinannya.
"Kan itu harga setahun kan, kalau kita belinya setahun. Yang 20 hari itu kalau enggak ada supply sama sekali, berantakan. Tapi biasanya enggak seperti itu. Kita pasti dapat suplai, mungkin harganya lebih tinggi," ucapnya.
Di akhir penjelasannya, Purbaya kembali menegaskan poin utamanya. Dengan asumsi harga minyak yang sudah diperhitungkan matang-matang, defisit APBN tetap dalam kendali. Ia menutup dengan keyakinan yang sama seperti pembukaannya.
"Saya bisa hitung dengan asumsi tadi, kita masih bisa kendalikan defisit kita. Kita masih bisa atur, enggak masalah," pungkasnya.
Artikel Terkait
Pengadilan Bebaskan Pengacara Junaedi Saibih dari Dakwaan Suap Hakim
Iran Klaim Serang Kantor Netanyahu dan Markas AU Israel dengan Rudal Kheibar
Prabowo Gelar Silaturahmi dengan Mantan Presiden, Wapres, dan Ketua Parpol di Istana
Menko Polkam Tinjau Progres RDMP Balikpapan, Waspadai Dampak Ketegangan Global