Menanggapi eskalasi ini, Inggris tak tinggal diam.
Di sisi lain, dari Washington, Presiden Donald Trump menyikapi kematian Khamenei dengan nada yang sangat berbeda. Dia menyebut sang Ayatollah sebagai salah satu orang paling jahat sepanjang sejarah. Baginya, momen ini adalah kesempatan emas bagi rakyat Iran untuk "merebut kembali negara mereka."
Trump juga menegaskan bahwa AS akan terus membombardir Iran. Dentuman ledakan dikabarkan masih bergema di Teheran, ibu kota Iran. Namun, kebijakan Trump ini menuai polemik di dalam negerinya sendiri. Operasi militer tanpa persetujuan Kongres itu memecah belah para anggota parlemen, sebagian besar mengikuti garis pemisah partai. Perserikatan Bangsa-Bangsa pun angkat bicara, menyebut operasi tersebut merusak stabilitas dan perdamaian regional.
Situasi sekarang benar-benar genting. Dengan lebih dari 200 korban meninggal di Iran, masa berkabung 40 hari yang baru saja dimulai seakan menjadi pertanda bahwa jalan panjang dan berdarah mungkin masih terbentang di depan.
Artikel Terkait
Presiden Iran Ancam Balas Dendam ke AS dan Israel Usai Kematian Khamenei
Protes di Times Square dan Serangan Balasan Iran Menyusul Eskalasi Militer AS-Israel
Serangan Drone di Dubai, 700 Penerbangan Dibatalkan dan Warga Diminta Berlindung
Iran Serang Dubai dan Kawasan Teluk, Hotel Mewah dan Bandara Terdampak