Di Manama, Bahrain, misalnya, kepulan asap hitam besar terlihat membubung dari area dekat markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Besaran kerusakannya masih diselidiki, dan AS sendiri belum memberikan komentar resmi.
Kementerian Pertahanan Qatar dengan tegas menyatakan mereka telah menembak jatuh beberapa rudal yang menuju pangkalan udara al-Udeid. Pangkalan ini dikenal sebagai basis terbesar AS di kawasan tersebut.
Menanggapi serangan ini, pemerintah Uni Emirat Arab tak tinggal diam. Melalui Kementerian Pertahanannya, UEA menyatakan telah berhasil mencegat sejumlah drone dan rudal. Mereka dengan keras mengecam aksi Iran, menyebutnya sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasional dan hukum internasional.
Di Bahrain, situasinya juga cukup parah. Kementerian Dalam Negeri setempat mengonfirmasi tiga bangunan di Manama dan Muharraq terkena serangan drone. Puing-puing dari rudal yang berhasil dicegat pun berhamburan. Saat ini, tim masih melakukan penilaian kerusakan di dua lokasi kejadian.
Kehadiran militer AS di Timur Tengah memang cukup signifikan. Sekitar 30.000 hingga 40.000 pasukan biasanya ditempatkan di 13 pangkalan yang tersebar di berbagai negara. Itu mungkin yang membuat mereka kerap menjadi sasaran dalam ketegangan geopolitik seperti ini.
Sampai berita ini diturunkan, situasi masih tegang. Asap mungkin sudah sirna, tapi ketakutan dan pertanyaan tentang eskalasi konflik berikutnya masih menggantung di udara.
Artikel Terkait
Presiden Iran Ancam Balas Dendam ke AS dan Israel Usai Kematian Khamenei
Protes di Times Square dan Serangan Balasan Iran Menyusul Eskalasi Militer AS-Israel
Serangan Drone di Dubai, 700 Penerbangan Dibatalkan dan Warga Diminta Berlindung
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Udara AS-Israel, Iran Balas Serang