Trump terlihat sangat yakin. "Dia tidak dapat menghindari intelijen dan sistem pelacakan kami yang sangat canggih dan bekerja sama dengan Israel," lanjutnya. Menurutnya, momen ini adalah kesempatan emas bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka.
Unggahan itu panjang dan penuh nada ultimatum. Trump mengklaim mendapat informasi bahwa banyak anggota IRGC, militer, dan aparat keamanan lain sudah enggan bertempur dan mencari kekebalan. Tapi pesannya keras: "Sekarang mereka bisa mendapatkan kekebalan, nanti mereka hanya akan mendapatkan kematian!".
Dia lalu berharap pasukan keamanan Iran bisa bergabung dengan apa yang disebutnya "Para Patriot Iran" untuk mengembalikan negara itu pada kejayaan. Prosesnya, kata Trump, harus segera dimulai. Sebab, kerusakan yang terjadi sudah sangat parah.
"Hanya dalam satu hari, telah sangat hancur dan luluh lantak," tulisnya. Meski begitu, ancaman operasi militer masih menganga. "Pemboman berat dan tepat sasaran akan terus berlanjut tanpa henti sepanjang minggu ini atau selama diperlukan."
Tujuannya? Katanya, untuk mencapai perdamaian di Timur Tengah, bahkan di seluruh dunia. Pernyataan Trump itu, digabung dengan konfirmasi dari media Iran, melukiskan sebuah situasi yang sangat genting. Dunia kini menunggu, sambil mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi di Teheran dan bagaimana dampak gelombang kejut ini akan meluas.
Artikel Terkait
Presiden Iran Ancam Balas Dendam ke AS dan Israel Usai Kematian Khamenei
Protes di Times Square dan Serangan Balasan Iran Menyusul Eskalasi Militer AS-Israel
Serangan Drone di Dubai, 700 Penerbangan Dibatalkan dan Warga Diminta Berlindung
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Udara AS-Israel, Iran Balas Serang