Tapi tentu saja, agar produk lokal bisa masuk proyek nasional, standarnya harus ketat. Ara menekankan beberapa poin krusial: kualitas dengan daya tahan minimal 15 tahun, estetika yang mendukung keindahan bangunan, dan tentu saja fungsionalitas harus tahan panas dan hujan. Satu hal yang non-negosiable: wajib memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).
“Mutu itu penting sekali. Karena itu SNI wajib untuk menjaga kualitas,” tegasnya.
Soal harga, dalam diskusi telah disepakati angka acuan Rp4.300 per unit, sudah termasuk ongkir. Pemerintah daerah dan kementerian akan turun tangan memberikan pendampingan teknis agar para pengrajin bisa memenuhi standar SNI yang ditetapkan.
Kembali ke BRI, Hery menyebut banknya memang punya DNA untuk berpihak pada rakyat kecil. Mereka sudah mengalokasikan dana KUR yang cukup besar tahun ini hampir Rp7 triliun. Yang menarik, sekitar separuhnya sudah terserap hanya dalam dua bulan pertama. Untuk program gentengisasi ini, mereka akan mulai dengan uji coba pada batch pertama dulu. Jika berjalan mulus, baru akan diperluas ke sentra-sentra produksi genteng di seluruh Indonesia.
“BRI memang sebagai bank yang DNA-nya berpihak kepada rakyat kecil. Jadi kami menyediakan pembiayaannya,” pungkas Hery.
Kolaborasi ini antara perbankan, pemerintah, pengembang, dan UMKM bukan cuma soal atap yang lebih baik. Lebih dari itu, ini adalah upaya untuk menghidupkan ekonomi kerakyatan secara masif, dari hulu ke hilir.
Artikel Terkait
Menkes Kritik Sahur Mie Instan Plus Nasi, Sarankan Telur dan Alpukat
Bapanas: Harga Pangan Pokok Stabil Menjelang Ramadan, Kewaspadaan Tetap Diperlukan
Tarif Ekspor RI ke AS Turun Jadi 15%, Ribuan Produk Dibebaskan Bea
Pasukan Indonesia Akan Dikerahkan di Gaza Selatan Awal April