Magnum Resmi Lepas dari Unilever, Saham Perdana Dibuka di Bursa Amsterdam

- Senin, 08 Desember 2025 | 19:45 WIB
Magnum Resmi Lepas dari Unilever, Saham Perdana Dibuka di Bursa Amsterdam

Senin lalu, pasar modal Eropa menyaksikan sebuah peristiwa besar. The Magnum Ice Cream Co, raksasa es krim dunia yang membawahi merek ikonis seperti Magnum, Ben & Jerry’s, dan Cornetto, akhirnya melantai secara resmi. Saham perdana mereka dicatatkan dengan valuasi mencapai 7,8 miliar euro atau setara Rp136 triliun. Langkah ini menandai babak baru setelah mereka resmi berpisah dari induknya, Unilever plc.

Di bursa Amsterdam, saham Magnum dibuka pada level 12,20 euro per lembar. Harganya kemudian bergerak naik tipis, melampaui harga referensi yang ditetapkan di 12,80 euro. Tidak hanya di Belanda, saham perusahaan ini juga mulai diperdagangkan di London. Bahkan, rencananya hari itu juga akan dilakukan pencatatan di New York melalui skema triple listing yang cukup ambisius.

Sebenarnya, proses ini molor hampir sebulan dari jadwal awal. Penundaan itu terjadi gara-gara penutupan layanan pemerintahan AS yang sempat membuat segalanya tertahan. Tapi, semua itu sudah berlalu. Kini, sebagai entitas mandiri, Magnum punya target yang jelas: memperbaiki kinerja. Selama ini, divisi es krim dikenal sebagai bagian dengan profitabilitas paling rendah di bawah payung Unilever.

Peter ter Kulve, CEO Magnum, langsung menegaskan arah perusahaan pasca-pemisahan.

“Misi kami sangat jelas: bisnis ini tidak tumbuh cukup cepat. Pertumbuhan perlu dipacu 1- 2 persen lebih tinggi dan profitabilitas masih di kisaran 400-500 basis poin lebih rendah dari yang seharusnya,” ujarnya.

Namun begitu, valuasi pasar yang tercatat ternyata lebih rendah dari yang diramalkan banyak analis. Sebagai contoh, Barclays plc pada riset Oktober lalu memperkirakan angka di kisaran 10,1 hingga 10,8 miliar euro. Angka itu setara dengan 9 sampai 9,5 kali proyeksi EBITDA mereka untuk tahun 2026.

Bagi para investor Unilever, spin-off ini seperti angin segar setelah bertahun-tahun menghadapi kinerja saham yang lesu. Di London, saham Unilever sendiri dibuka di level 43,42 poundsterling. Mekanismenya, pemegang saham akan mendapat satu saham Magnum untuk setiap lima saham Unilever yang mereka miliki.

Lepasnya unit es krim tahun lalu adalah bagian dari strategi besar Unilever untuk menyederhanakan portofolio dan mendongkrak pertumbuhan. Es krim memang bisnis yang rumit. Biaya produksi dan penyimpanannya yang tinggi telah lama menggerus margin. Ke depan, Magnum menargetkan pertumbuhan penjualan tahunan 3-5 persen mulai tahun depan. Mereka juga membidik arus kas bebas sebesar 800 juta hingga 1 miliar euro pada periode 2028-2029.

Di sisi lain, tantangan ke depan tidaklah kecil. Analis Jefferies menyoroti beberapa hal, mulai dari tren kesehatan masyarakat yang semakin kuat, maraknya obat penurun berat badan, hingga karakter bisnisnya yang padat modal. Meski begitu, mereka memberi apresiasi pada tim manajemen Magnum yang dinilai “cukup disegani”. Kini, tim itu punya ruang lebih luas untuk berinvestasi dalam pertumbuhan, tidak lagi sekadar fokus pada efisiensi seperti era di bawah Unilever.

Proses panjang pemisahan ini akhirnya tertutup sudah. Opsi lain seperti penjualan ke private equity sempat dipertimbangkan pada 2024, sebelum akhirnya diputuskan untuk spin-off di tiga bursa sekaligus.

Lantas, bagaimana prospek sahamnya ke depan? Dalam jangka pendek, pergerakannya kemungkinan akan dipengaruhi oleh kinerja dan likuiditasnya sendiri. JP Morgan Chase & Co memberi catatan penting: Magnum tidak akan masuk dalam indeks utama seperti FTSE 100 atau Stoxx Europe 50. Imbasnya, dana-dana yang mengikuti indeks tersebut mungkin akan melepas kepemilikan sahamnya.

“Akan ada kemungkinan flow back dari investor yang menerima saham di luar mandat mereka,” tulis analis JPMorgan.

Perjalanan Magnum sebagai perusahaan independen pun dimulai. Semua mata kini tertuju pada apakah raksasa es krim ini bisa memenuhi target ambisiusnya dan menghangatkan portofolio para investornya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar