Jerome Powell, Ketua The Fed, bikin kejutan. Meski masa jabatannya sebagai ketua bakal habis pada 15 Mei mendatang, dia ngotot tetap bertahan di dewan bank sentral. Bukan sebagai ketua, melainkan sebagai gubernur biasa. Katanya sih, dengan profil rendah.
Pernyataan itu disampaikan Powell dalam konferensi pers, Rabu (29/4/2026) waktu setempat. Dia bilang, setelah Senat nanti mengonfirmasi penggantinya Kevin Warsh, yang dinominasikan Presiden Donald Trump dia bakal tetap duduk di kursi gubernur. “Keputusan saya ini semata-mata didasari apa yang saya anggap terbaik untuk institusi dan masyarakat yang kami layani,” ujarnya, seperti dikutip dari ABCNews, Kamis (30/4/2026). “Setelah jabatan ketua berakhir, saya akan lanjut sebagai gubernur untuk jangka waktu tertentu.”
Nah, soal Kevin Warsh sendiri, proses konfirmasinya di Senat diperkirakan rampung dalam beberapa pekan ke depan. Menariknya, Trump sempat bercanda atau mungkin setengah serius bahwa dia bakal menggugat Warsh kalau menolak menurunkan suku bunga. Bayangin, itu persis seperti yang selama ini dilakukan Powell di sebagian besar masa jabatan kedua Trump.
Di sisi lain, hubungan Powell dengan Gedung Putih memang sudah panas sejak lama. Penolakannya untuk mengikuti kemauan politik soal kebijakan moneter bikin Trump naik pitam. Bahkan, ada dugaan Trump ikut campur dalam penyelidikan kriminal Departemen Kehakiman terhadap Powell. Isunya soal renovasi kantor pusat The Fed yang biayanya membengkak.
Trump sendiri membela diri. Katanya, penyelidikan itu cuma mau lihat apakah Powell melanggar hukum atau enggak. Tapi anggota parlemen dari dua kubu Republik dan Demokrat punya pandangan lain. Mereka menilai ini cuma cara Trump untuk mengintimidasi Powell, biar nurunin suku bunga. Sebelumnya, Trump juga sempat mengancam bakal memecat Powell kalau dia tak mau mundur.
Namun begitu, Powell tetap pada pendiriannya. Dalam konferensi pers itu, dia menegaskan tidak akan mundur di tengah kekhawatiran soal intervensi politik. “Saya sudah bilang sejak awal: saya tidak akan meninggalkan dewan sampai proses ini benar-benar tuntas, transparan, dan jelas. Saya pegang teguh pernyataan itu,” katanya.
Dia juga menambahkan, keputusannya ini muncul dari kekhawatiran yang dalam. “Saya cemas, serangan-serangan semacam ini bisa merusak institusi dan membahayakan hal yang sangat penting bagi publik yaitu kemampuan kami menjalankan kebijakan moneter tanpa diganggu faktor politik,” tuturnya.
Yang menarik, Powell mengaku sebenarnya sudah lama punya rencana untuk pensiun. Tapi apa yang terjadi dalam tiga bulan terakhir mungkin merujuk pada tekanan politik dan penyelidikan membuatnya merasa tak punya pilihan lain. “Saya harus bertahan, memastikan semuanya berjalan sampai tuntas,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Harga Minyak Melonjak 7 Persen Imbas Negosiasi AS-Iran Mandek dan Stok AS Anjlok
Wall Street Loyo Setelah The Fed Tahan Suku Bunga, Investor Tunggu Laporan Empat Raksasa Teknologi
Taspen Serahkan Santunan Rp283 Juta ke Ahli Waris Guru SD Korban Tabrakan Kereta di Bekasi
SIG Luncurkan Semen Hijau dengan Emisi Karbon 38 Persen Lebih Rendah