Harga Minyak Melonjak 7 Persen Imbas Negosiasi AS-Iran Mandek dan Stok AS Anjlok

- Kamis, 30 April 2026 | 07:40 WIB
Harga Minyak Melonjak 7 Persen Imbas Negosiasi AS-Iran Mandek dan Stok AS Anjlok

IDXChannel Harga minyak bener-bener terbang tinggi, naik lebih dari 6 persen pada Rabu (29/4/2026). Penutupan di level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir ini bikin banyak orang geleng-geleng kepala. Soalnya, negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran lagi mandek, dan itu bikin investor makin khawatir pasokan dari Timur Tengah bakal terganggu dalam waktu yang lama.

Nggak cuma itu, data dari pemerintah AS juga ikut-ikutan mendongkrak harga. Ternyata, persediaan minyak mentah dan bahan bakar mingguan turun lebih besar dari perkiraan. Jadi, ya, wajar aja kalau harga naik.

Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Juni yang udah naik delapan hari berturut-turut akhirnya ditutup melesat 6,1 persen. Angkanya? USD118,03 per barel. Itu level tertinggi sejak 31 Maret. Bahkan, setelah perdagangan resmi tutup, harganya masih lanjut naik sampai nyentuh USD120 per barel. Kejadian kayak gini pertama kali sejak Juni 2022.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk Juni juga ikut-ikutan melambung. Naik 7 persen ke USD106,88 per barel, yang jadi rekor tertinggi sejak 7 April.

Nah, menurut seorang pejabat Gedung Putih kayak yang dikutip Reuters Presiden Donald Trump udah minta perusahaan-perusahaan minyak AS cari cara buat ngatasin dampak potensi blokade pelabuhan Iran. Blokade ini bisa berlangsung berbulan-bulan, lho. Makin bikin pasar deg-degan, apalagi kalau gangguan pasokan dari Timur Tengah ternyata berlarut-larut.

Berdasarkan hitungan Reuters sampai pertengahan April, lebih dari USD50 miliar pasokan minyak mentah udah lenyap sejak perang Iran dimulai. Angka yang nggak main-main.

“Kalau Trump siap memperpanjang blokade, gangguan pasokan bakal makin parah. Harga minyak jelas bakal terdorong lebih tinggi lagi,” ujar Yang An, analis dari Haitong Futures.

Tanda-tanda pasokan mulai mengetat juga udah keliatan. Data dari Energy Information Administration (EIA) nunjukin kalau stok minyak mentah AS turun lebih dari 6 juta barel pekan lalu. Padahal, analis cuma memperkirakan penurunan sekitar 200.000 barel. Jauh banget, kan?

Nggak cuma minyak mentah, persediaan bensin dan bahan bakar distilat yang sebagian besar diesel juga turun lebih dalam dari perkiraan. Ini bikin orang khawatir bakal ada kekurangan pasokan di negara dengan konsumsi bahan bakar terbesar di dunia, apalagi pas musim berkendara musim panas mulai jalan.

“Harga diperkirakan bakal dapet dukungan baru seiring musim panas mendekat. Permintaan produk naik, sementara pasokan terbatas,” tulis analis dari RBC Capital Markets.

Di sisi lain, ada kabar dari Abu Dhabi National Oil Company. Mereka bilang ke sebagian pelanggannya bahwa mereka bisa memuat dua jenis minyak mentah di luar Teluk bulan depan. Soalnya, Selat Hormuz masih ditutup. Informasi ini dari sumber yang tahu masalahnya.

Investor juga lagi sibuk mencermati dampak keputusan Uni Emirat Arab (UEA) buat keluar dari OPEC. Tapi, menurut analis, dalam jangka pendek nggak ada dampak besar.

“Untuk waktu dekat, produsen Timur Tengah diperkirakan tetap memasok minyak semaksimal mungkin ke pasar,” kata Callum Macpherson, Kepala Komoditas Investec.

Namun begitu, keluarnya UEA dianggap sebagai retakan paling signifikan dalam sejarah OPEC. Wood Mackenzie bilang, ini bisa ningkatin risiko kelebihan pasokan yang bakal menekan harga minyak mulai 2027.

“Kepergian UEA dari OPEC dampaknya minimal terhadap fundamental pasar di 2026, bahkan kalau Selat Hormuz dibuka lagi,” ujar Simon Flowers, Kepala Analis Wood Mackenzie.

Dia nambahin, “Tapi setelah tahun ini, absennya UEA bakal bikin OPEC makin susah jaga keseimbangan pasar. Risiko kelebihan pasokan makin besar, dan itu bisa ngelemahin harga.”

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar