Houston Harga minyak dunia kembali terbang tinggi pada perdagangan Rabu waktu setempat, atau Kamis dini hari WIB. Penyebab utamanya? Laporan media soal perpanjangan blokade angkatan laut Amerika Serikat, ditambah penolakan Iran terhadap proposal perdamaian. Situasi di Timur Tengah jelas masih memanas.
Selat Hormuz, jalur energi paling vital di planet ini, masih terkunci. Kebuntuan antara Washington dan Teheran bikin pasokan minyak terus terganggu. Para pedagang juga sibuk mencermati langkah Uni Emirat Arab yang memutuskan hengkang dari OPEC. Belum lagi keputusan Federal Reserve yang sudah diduga sebelumnya memilih menahan suku bunga tetap stabil.
Kamis pagi, 30 April 2026, data dari pasar menunjukkan lonjakan yang cukup signifikan. Harga minyak Brent berjangka untuk kontrak Juni yang jadi patokan internasional melonjak 6,2 persen. Angkanya kini USD118,11 per barel. Sementara kontrak yang lebih aktif, yang berakhir Juli, naik 5,8 persen ke USD110,39 per barel.
Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga ikut terkerek. Standar harga minyak Amerika itu naik hingga 6,8 persen, menyentuh USD106,74 per barel.
Trump tolak proposal damai Iran
Nah, soal blokade ini, Presiden AS Donald Trump sudah angkat bicara. Menurut sejumlah pejabat AS, Trump memerintahkan timnya untuk bersiap menghadapi blokade angkatan laut yang berkepanjangan terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran. Buat Trump, blokade dianggap lebih aman dibandingkan melancarkan serangan militer besar-besaran. Atau sebaliknya menempuh jalur diplomatik yang cepat.
Laporan media pada Selasa lalu menyebut Trump kurang puas dengan proposal tiga langkah dari Iran. Isinya, Iran mau membuka kembali Selat Hormuz, tapi dengan imbalan negosiasi soal ambisi nuklirnya ditunda. Tapi Trump ngotot. Laporan Wall Street Journal pada Rabu mengungkapkan, Trump tidak mau melunak. Tuntutan utamanya tetap: Iran harus berkomitmen menangguhkan pengayaan uranium setidaknya selama 20 tahun.
Trump kemudian blak-blakan. Blokade, katanya, sedikit lebih efektif daripada pemboman. Dan dia tidak akan mencabutnya. Alasannya simpel: dia tidak ingin Iran punya senjata nuklir. Sementara itu, Axios melaporkan Komando Pusat AS sudah menyiapkan rencana serangan singkat namun kuat terhadap Iran kalau-kalau negosiasi benar-benar buntu.
“Iran tidak becus. Mereka tidak tahu cara menandatangani kesepakatan non-nuklir. Mereka sebaiknya segera pintar!” tulis Trump di media sosial, dengan nada khasnya yang frontal.
Fed pertahankan suku bunga
Terlepas dari hiruk-pikuk konflik di Timur Tengah, pelaku pasar energi juga punya pekerjaan rumah lain: mencerna keputusan suku bunga The Fed. Di bawah kepemimpinan Jerome Powell, bank sentral AS itu memilih status quo suku bunga tetap stabil. Keputusan ini sudah banyak ditebak sebelumnya.
Dalam pertemuan terakhir, Powell bilang masih terlalu dini untuk mengukur dampak lonjakan harga minyak terhadap inflasi dan ekonomi AS secara keseluruhan. Tapi data sejak pertemuan itu menunjukkan sesuatu yang menarik. Inflasi utama memang terpengaruh signifikan oleh kenaikan harga minyak. Namun, inflasi inti yang tidak memasukkan makanan dan energi tidak naik separah yang dikhawatirkan.
Yang menarik, keputusan The Fed kali ini menuai empat suara berbeda. Jumlah terbanyak sejak 1992, lho. Seorang pembuat kebijakan lebih memilih pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin. Sementara tiga lainnya tidak setuju dengan dimasukkannya bias pelonggaran dalam pernyataan bank sentral saat ini. Jadi, meski keputusan akhirnya bulat, di dalam ruangan jelas ada perdebatan sengit.
Artikel Terkait
Kemenimipas Serahkan 23 Pegawai ke Polisi dan BNN sejak Akhir 2024
Pemkot Yogyakarta Siapkan 15 Daycare Alternatif dan Pendampingan Psikolog untuk 104 Anak Korban Kekerasan
Wamendagri: Damkar, Satpol PP, dan Linmas Garda Depan Jaga Ketertiban dan Perlindungan Masyarakat
Mobil Terbalik di Tol Jagorawi Usai Serempet Mobil Lain, Diduga Sopir Mengantuk