Menkes Kritik Sahur Mie Instan Plus Nasi, Sarankan Telur dan Alpukat

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 14:00 WIB
Menkes Kritik Sahur Mie Instan Plus Nasi, Sarankan Telur dan Alpukat

Mie instan ditambah nasi saat sahur? Menurut Menkes Budi Gunadi Sadikin, itu resep yang kurang tepat. Lewat unggahan di Instagram pribadinya, @bgsadikin, ia mengkritik kebiasaan itu. Memang, perut terasa penuh sesaat. Tapi coba lihat nanti siang hari. Rasa lapar bakal balik menyerang lebih cepat.

“Siapa disini yang makannya mie instan untuk sahur? Supaya satset. Apalagi ditambah sama nasi, cepat kenyang,” ujarnya dalam video yang beredar akhir pekan lalu.

“Nah, kalau makan seperti ini pasti cepat kenyang sih, cuma pada saat sahur doang. Nanti kalau udah siangan pasti kalian laper lagi,” lanjut Budi.

Alasannya sederhana. Kombinasi mie dan nasi, yang tinggi karbohidrat sederhana, bisa memicu gula darah melonjak tajam. Sayangnya, penurunannya juga drastis. Hasilnya, energi tidak bertahan lama dan perut keroncongan sebelum waktunya berbuka.

Lalu, gimana solusinya? Budi punya saran yang menurutnya lebih sehat dan tak bikin kantong jebol. Dia sendiri mempraktikkan menu sahur sederhana: telur rebus dan alpukat. Dua item itu, klaimnya, adalah sumber protein dan lemak baik yang dibutuhkan tubuh untuk bertahan seharian.

“Menu sahur saya ada dua hal yang menarik. Satu adalah telur rebus karena saya butuh untuk proteinnya. Yang kedua adalah alpukat karena saya butuh lemak baiknya,” jelasnya.

“Ayo, ikutin saya, sekarang sahur tanpa nasi, cukup dua ini aja.”

Dia berargumen, protein dan lemak baik memberikan energi yang lebih tahan lama. Selain itu, pola makan ini membantu menjaga kestabilan gula darah, sehingga kita tidak mudah lemas atau cepat lapar selama jam puasa.

Yang menarik, menu andalannya ini ternyata sangat terjangkau. Budi bahkan merinci perkiraan harganya. Dua butir telur rebus kira-kira lima ribu rupiah. Untuk alpukat, separuh buah saja cukup, dengan harga sekitar tujuh ribu lima ratus rupiah.

“Jadi kalau total kita makan dua ini cuma Rp13.000. Sama sih kalau kita beli nasi uduk di mamang-mamang di depan,” katanya sambil menyebut angka itu masih di bawah lima belas ribu.

Jadi, di tengah isu harga kebutuhan pokok yang naik, tips dari Menkes ini menawarkan alternatif. Gampang didapat, harganya bersahabat, dan klaimnya lebih menyehatkan. Tinggal pilih, mau kenyang sesaat atau energi yang bertahan sampai azan Maghrib berkumandang.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar