Tukang Cukur Asli Garut Tak Gentar Dihimpit Barbershop Kekinian

- Rabu, 28 Januari 2026 | 03:18 WIB
Tukang Cukur Asli Garut Tak Gentar Dihimpit Barbershop Kekinian

Barbershop bergaya kekinian memang tumbuh bak jamur di musim hujan. Tapi jangan salah, tukang cukur tradisional seperti para Asli Garut atau Asgar ternyata masih punya tempat. Mereka tak benar-benar tergerus zaman.

Di Batu Ampar, Kramat Jati, Jakarta Timur, ada Andri. Pria 39 tahun asal Garut ini sudah lima tahun mengelola Pangkas Rambut Asgar Yana. Menurutnya, meski barbershop modern makin banyak, langganannya tetap setia.

“Masih ramai, alhamdulillah. Ngandelin langganan sih, dari semua kalangan,” ujar Andri.

“Per harinya nggak tentu, tapi sepuluh sampai lima belas orang mah biasa ada.”

Namun begitu, ia mengakui persaingan itu nyata. Kehadiran barbershop modern membagi-bagi pelanggan. “Ngaruh juga. Ada yang pindah, lumayan banyak. Tapi pelanggan baru juga datang,” ceritanya.

Pendapatannya fluktuatif. Di hari libur, ketika pelanggan membludak, ia bisa membawa pulang hingga Rp 800 ribu. Sebaliknya, di hari kerja yang sepi, pendapatannya bisa terjun bebas ke angka Rp 80 ribu saja.

Soal harga, Andri patok dengan angka yang bersahabat. Cukur rambut dewasa cuma Rp 20 ribu. Kalau mau botak licin, Rp 30 ribu. Ada juga paket cukur plus semir rambut seharga Rp 70 ribu.

Lalu yang termurah? Cukur kumis dan jenggot, cukup bayar sepuluh ribu rupiah. Hasilnya? Rapih, tidak kalah dengan tempat yang lebih mahal.

Tak jauh dari sana, ada lagi cerita serupa. Mudi, 46 tahun, sudah lebih dari 15 tahun mengelola Pangkas Rambut Asli Garut. Yang menarik, kedainya dilengkapi AC sebuah sentuhan modern di tempat yang tradisional.

“Dari awal memang pakai AC. Model bangunannya pendek, kalau pakai kipas angin terlalu dekat ke kepala. Biar nyaman, ya pakai AC saja,” jelas Mudi.

Meski ber-AC, harganya tetap terjangkau. Cukur dewasa Rp 25 ribu, anak-anak Rp 20 ribu, dan botak licin Rp 30 ribu. Sama seperti Andri, cukur jenggot di sini juga cuma sepuluh ribu.

“Ada aja yang datang khusus untuk itu, meski nggak banyak. Untuk botak licin agak beda harganya, soalnya modal usahanya lebih susah,” katanya.

Pola ramainya mirip: akhir pekan adalah hari emas. Sabtu dan Minggu, pendapatan Mudi bisa menembus Rp 1 juta per hari. Sementara di hari biasa, angka itu berkisar antara Rp 400 hingga 500 ribu.

Di sisi lain, tantangan dari barbershop modern ia akui dengan jujur. Menurut pengamatannya, anak muda sekarang lebih tertarik ke sana.

“Mungkin lebih menarik bagi mereka. Di tempat kami kan usianya sudah lanjut, kayak saya sudah kepala empat. Anak muda usia 20-an kadang nggak mau cukur ‘jadul’ dengan tukang cukur yang sudah tua,” ucap Mudi.

Persaingan lain datang dari layanan dan promo. Barbershop modern punya treatment lengkap: mewarnai, perming, keramas. Mereka juga rajin beri promo menarik.

“Kita di sini cukur doang sudah. Nggak ada promo apa-apa, nggak jual pomade atau powder. Ya memang begitu adanya,” tuturnya dengan nada menerima.

Jadi, di tengah gempuran gaya kekinian, para tukang cukur Asgar ini tetap bertahan. Mereka mengandalkan harga bersaing, pelayanan jujur, dan hubungan personal dengan pelanggan lama. Sebuah cerita ketahanan yang sederhana, tapi nyata.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar