Bapanas: Harga Pangan Pokok Stabil Menjelang Ramadan, Kewaspadaan Tetap Diperlukan

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 13:40 WIB
Bapanas: Harga Pangan Pokok Stabil Menjelang Ramadan, Kewaspadaan Tetap Diperlukan

Menjelang pertengahan Ramadan, suasana pasar tradisional seperti Gondangdia di Jakarta tampak ramai namun terkendali. Barang-barang memenuhi lapak, dan yang paling penting, harganya tak melonjak liar. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut situasi harga bahan pokok saat ini relatif stabil. Komitmen pemerintah adalah menjaga kewajaran harga ini agar bertahan hingga Lebaran nanti, sehingga masyarakat bisa berbelanja dengan lebih nyaman.

Menurut I Gusti Ketut Astawa, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, hasil pantauan di lapangan cukup menggembirakan. Sejumlah komoditas utama masih berada dalam batas HET dan HAP yang telah ditetapkan.

"Tingkat harga pangan relatif bagus. Mudah-mudahan ini bisa bertahan sehingga masyarakat lebih nyaman memperoleh bahan pangan dengan harga wajar,"

ujarnya dalam sebuah keterangan.

Di lapangan, daging sapi dijual maksimal Rp140 ribu per kilogram. Sementara itu, harga daging ayam berkisar antara Rp39 hingga Rp40 ribu per kg. Untuk satu ekor ayam utuh berbobot 1,4 kg, harganya sekitar Rp50 ribu. Komoditas bumbu dapur seperti bawang merah ada di angka Rp42-43 ribu per kg, dan bawang putih Rp38-39 ribu. Kabar baik datang dari cabai rawit merah yang harganya turun jadi Rp100 ribu per kg, dari sebelumnya Rp120 ribu. Telur ayam ras dan beras medium juga stabil, masing-masing di kisaran Rp30-31 ribu dan Rp12-12.500 per kilogram.

Data Indeks Perkembangan Harga (IPH) hingga minggu ketiga Februari 2026 pun mendukung optimisme ini. Trennya positif, lho. Jumlah daerah yang mengalami penurunan IPH meningkat dibanding bulan sebelumnya, sebuah sinyal bahwa gejolak harga masih bisa dikendalikan.

Ambil contoh bawang putih. Komoditas ini mencatat penurunan IPH di 138 kabupaten/kota, angka yang melonjak dua kali lipat dari bulan sebelumnya yang hanya 65 daerah. Nasib serupa dialami telur ayam ras, dengan 171 daerah mengalami penurunan, naik dari 129 daerah pada periode sebelumnya.

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar