Data BGN menunjukkan, setiap SPPG bisa menghasilkan sekitar 500 liter jelantah per bulan. Alih-alih dibuang dan mencemari selokan, minyak bekas ini kini dilihat sebagai potensi. “Dengan adanya SPPG, orang mulai aware bahwa 500 liter per bulan dari satu SPPG, ini satu potensi ekonomi yang lain,” jelas Sony.
Jadi, selain menyediakan makan, program ini juga membuka wawasan baru tentang ekonomi sirkular. Limbah diolah jadi berkah, menciptakan nilai tambah dari sesuatu yang sebelumnya terbuang.
Dari sisi cakupan, MBG telah menjangkau 58,3 juta penerima manfaat per pertengahan Januari lalu. Sejak digulirkan tahun 2025, program ini berhasil membentuk lebih dari 21 ribu SPPG. Perkembangannya cukup signifikan.
Lalu, bagaimana dengan realisasi anggarannya? Hingga 21 Februari 2026, realisasinya mencapai Rp36,6 triliun. Angka ini setara dengan 10,9 persen dari total pagu APBN 2026 untuk MBG yang sebesar Rp335 triliun. Masih panjang jalan yang harus ditempuh, tapi langkah awalnya sudah terlihat.
Intinya, program ini tak hanya bicara soal gizi. Ia telah menjadi simpul penting yang menyentuh aspek ketenagakerjaan, ekonomi kreatif, dan kelestarian lingkungan. Sebuah terobosan yang dampaknya beruntun, dimulai dari satu piring makanan bergizi.
Artikel Terkait
Demiane Agustien, Bintang Muda Arsenal Berdarah Indonesia, Buka Peluang Bela Timnas Garuda
BMKG: Waspada Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang di Jabodetabek Sabtu Ini
Menteri UMKM Soroti Banjir Impor Ilegal Sebagai Ancaman Utama Bagi Pelaku Usaha
Kadin Rancang Kajian MBGnomics dan Siap Manfaatkan Peluang Tarif AS