Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu, punya kabar yang bikin kita semua merenung. Ternyata, Indonesia sempat melewatkan potensi investasi yang jumlahnya fantastis: Rp1.500 triliun. Angka yang sulit dibayangkan, bukan? Menurutnya, salah satu biang keroknya adalah sistem perizinan yang dulu berbelit-belit dan berlapis-lapis.
Banyak perusahaan yang sudah mengurus izin lewat sistem OSS ternyata cuma mentok di tahap awal. Mereka dapat NIB dan KBLI, lalu berhenti. Padahal, perjalanan untuk benar-benar bisa beroperasi masih panjang sekali.
"Komitmen berinvestasi itu ada, tapi realisasinya nol. Kenapa? Ya, karena belum tereksekusi. Salah satu penyebab utamanya ya di pelayanan perizinan ini," ujar Todotua di kantornya, Kamis lalu.
Dia lantas membandingkan dengan Vietnam. Negeri itu pertumbuhan investasinya luar biasa, salah satunya berkat kemudahan perizinan. Prosesnya sederhana, tidak bertele-tele, sehingga arus modal pun lancar masuk.
"Kalau kita bicara investasi, parameter pembanding kami selalu Vietnam. Head to head," katanya.
Data dari Trading Economics pun membuktikan. Investasi asing langsung (FDI) di Vietnam tumbuh 9% year-on-year pada 2025, mencapai USD27,62 miliar. Itu adalah level tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Artikel Terkait
Pelatih Souto Bangga Meski Timnas Futsal Indonesia Gagal Pertahankan Gelar AFF
OJK Pastikan Penyesuaian Batas SLIK Rp1 Juta Sudah Dihitung Matang
BSI dan Antam Perluas Kerja Sama, Bangun Ekosistem Emas Terintegrasi
Imigrasi Perketat Pengawasan Perusahaan Tambang dan PMA Soal TKA Ilegal