BSI dan Antam Perluas Kerja Sama, Bangun Ekosistem Emas Terintegrasi

- Senin, 13 April 2026 | 23:35 WIB
BSI dan Antam Perluas Kerja Sama, Bangun Ekosistem Emas Terintegrasi

Jakarta, Senin (13/4/2026) – Kolaborasi strategis antara dua BUMN besar, Bank Syariah Indonesia (BRIS) dan Aneka Tambang (ANTM), memasuki babak baru. Mereka resmi memperluas kerja sama untuk membangun ekosistem emas terintegrasi di dalam negeri. Ini bukan sekadar nota kesepahaman biasa, tapi langkah konkret menuju monetisasi emas yang lebih modern.

Peran BSI dalam ekosistem ini ternyata sangat sentral. Bayangkan saja, sepanjang tahun 2025, bank syariah tersebut menyerap lebih dari 60 persen penjualan emas ANTM yang dikategorikan ke pihak berelasi. Bahkan, kalau dilihat dari total penjualan emas ANTM secara keseluruhan, porsi BSI masih signifikan: sekitar 11 persen.

Menurut Anton Sukarna, Direktur Sales & Distribution BSI, kolaborasi ini jadi momentum akselerasi. Apalagi setelah BSI mengantongi izin sebagai bullion bank.

“Bisnis emas kami memang sedang melejit. Baik melalui layanan bullion, cicilan, maupun gadai. Sinergi dengan ANTM itu fondasinya, karena sebagian besar emas yang kami edarkan adalah produksi mereka. Ini wujud nyata penguatan ekosistem BUMN seperti yang diharapkan pemerintah,” jelas Anton.

Gambaran pertumbuhannya memang luar biasa. Hingga Maret 2026, nasabah layanan bullion BSI hampir menyentuh angka 1 juta. Angka itu melonjak 658 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, produk cicil emasnya diminati lebih dari 565 ribu nasabah, naik 54,67 persen.

Lantas, seperti apa bentuk kerja sama yang diperluas ini? Rencananya, mereka akan fokus pada perdagangan emas fisik Logam Mulia via kanal digital, memperkuat distribusi ritel, dan tak ketinggalan, edukasi investasi untuk masyarakat luas.

Di sisi lain, ANTM sebagai produsen punya tugas besar: menjaga stabilitas pasokan. Permintaan domestik yang terus meroket harus bisa dipenuhi.

Handi Sutanto, Direktur Komersial ANTM, membeberkan data produksi. Pada 2025, ANTM memproduksi sekitar 743 kg emas. Tapi yang menarik, volume penjualannya justru tembus lebih dari 37 ton.

“Sebagai produsen, komitmen kami adalah memastikan pasokan emas berkualitas dan memperkuat distribusi lewat kemitraan strategis. Capaian penjualan yang jauh di atas produksi itu menunjukkan tingginya permintaan pasar dan peran strategis kami,” tutur Handi.

Dia menambahkan, kolaborasi lintas sektor inilah kuncinya. Agar emas tak cuma jadi simpanan di brankas, tapi bisa dimanfaatkan secara optimal untuk menggerakkan ekonomi.

“Ke depan, kerja sama seperti ini penting untuk mendorong monetisasi emas. Sekaligus memperkuat posisinya sebagai instrumen investasi yang aman dan relevan bagi masyarakat,” kata Handi.

Pada akhirnya, sinergi ini punya dimensi yang lebih luas. Ini adalah bagian dari dukungan terhadap program pemerintah untuk menciptakan kemandirian ekonomi, lewat industri bullion yang bisa bersaing secara global.

Dengan mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik (GCG), BSI dan ANTM berambisi membawa investasi emas nasional “naik kelas”. Mereka ingin menciptakan sistem yang inklusif, aman, dan terpercaya untuk semua kalangan.

(kunthi fahmar sandy)

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar