Masjid Bergaya Kelenteng di Jakarta Timur, Kisah Perjalanan Spiritual Sang Pendiri

- Rabu, 25 Februari 2026 | 18:50 WIB
Masjid Bergaya Kelenteng di Jakarta Timur, Kisah Perjalanan Spiritual Sang Pendiri

“Di samping sebagai hiasan, kami juga menyisipkan pesan di sana. Artinya apa? Inilah sifat Tuhan kami, Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jadi pesannya untuk yang beribadah di sini: jangan pernah ragu untuk selalu berdoa dan beribadah,” ungkapnya.

Yang paling mencolok mungkin adalah kubahnya. Bentuknya menyerupai pagoda, dan jumlahnya ada lima. Satu besar di tengah, dikelilingi empat lainnya di setiap sudut. Bukan tanpa makna. Frans memaparkan, lima kubah itu melambangkan lima Rukun Islam yang menjadi pondasi keyakinan umat Muslim.

Masjid ini sendiri baru diresmikan pada Oktober 2022. Namanya diambil langsung dari nama pendirinya, yang juga dikenal sebagai Haji Abdul Soleh.

“Awal mulanya, ini adalah rumah almarhum. Makanya diabadikan sebagai nama masjid,” beber Frans.

Ceritanya berawal dari rumah tinggal yang digunakan untuk majelis taklim. Setelah Tjia Kaang Hoo wafat, anaknya, Haji Budianto, punya gagasan untuk mengembangkan tempat itu.

“Setelah majelis taklim digagas, Bapak Haji Budianto berinisiatif mendirikan masjid. Akhirnya, setelah rembukan dengan keluarga, tanah ini diwakafkan untuk pendirian masjid,” pungkas Frans menutup pembicaraan.

Kini, di tengah hiruk-pikuk Pasar Rebo, masjid dengan wajah kelenteng itu tetap berdiri. Sebuah simbol harmoni budaya yang dibangun dari sebuah perjalanan spiritual.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar