Saham Konglomerasi Bangkit, Pasar Masih Waspada Menunggu Keputusan MSCI

- Senin, 13 April 2026 | 07:15 WIB
Saham Konglomerasi Bangkit, Pasar Masih Waspada Menunggu Keputusan MSCI

Setelah sempat terpuruk gara-gara daftar emiten HSC dari bursa, saham-saham konglomerat justru bangkit dengan cukup tajam sepanjang pekan lalu. Ada dua angin segar yang mendorong reli ini: kabar baik dari FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia, plus gencatan senjata sementara antara AS dan Iran yang bikin pasar global sedikit lega.

Tapi, ceritanya belum berakhir. Negosiasi gencatan senjata itu, kata kabar terbaru Minggu (12/4), ternyata mentok. Gagal. Artinya, ketenangan yang baru dirasakan pasar itu bisa-bisa cuma sementara. Belum lagi, semua mata masih menunggu keputusan MSCI yang bakal menentukan arah selanjutnya. Jadi, reli ini masih terasa rapuh.

Yang paling mencolok sih, saham-saham milik Prajogo Pangestu dari Grup Barito. BRPT melonjak hampir 50 persen ke level Rp1.915. Tak kalah heboh, TPIA juga naik 45,68 persen ke Rp6.075 per data Jumat (10/4). Mereka nggak sendirian. CUAN, CDIA, dan PTRO ikut meroket dengan kenaikan di atas 25 persen. BREN juga menyusul, menguat 20,83 persen.

Di sisi lain, Grup Bakrie juga menunjukkan tren serupa. Saham BNBR melesat 40,95 persen ke Rp148. VKTR, BRMS, ENRG, DEWA, dan BUMI pun ikut naik, meski persentasenya beragam.

Rebound ini ternyata cukup luas. Kelompok Hapsoro, misalnya, dengan RAJA, BUVA, dan RATU juga catat kenaikan signifikan. Dari Sinarmas, DSSA naik 10,28 persen ke Rp3.110 emiten ini baru aja bagi-bagi saham (stock split) dengan rasio 1:25.

Grup Salim dengan AMMN dan PANI ikut merasakan imbasnya. Sementara itu, pergerakan saham Grup Haji Isam lebih variatif. JARR dan PGUN naik, tapi TEBE malah terkoreksi hampir 7 persen. Lalu, ada juga WIFI milik Hashim Djojohadikusumo yang naik hampir 10 persen.

Menurut pengamat pasar modal Michael Yeoh, reli ini wajar. "Saham konglomerasi memang erat kaitannya dengan indeks," ujarnya, Kamis (9/4).

Dia bilang, kabar dari FTSE kemarin memberi angin segar buat emiten-emiten konglo di IHSG. "Itu membuat banyak saham konglo selain Prajogo juga mengalami rebound," tambahnya.

Michael mencontohkan, penguatan nggak cuma di Barito. "Sebut saja contoh saham-saham Happy Hapsoro dan Grup Bakrie," katanya.

Namun begitu, semua masih menunggu. Menurut Michael, arah saham konglomerasi ke depan sangat bergantung pada keputusan indeks global berikutnya, terutama dari MSCI yang rencananya bakal rebalancing besar-besaran pada Mei nanti. "Saham konglo masih perlu menunggu kejelasan dari indeks MSCI," tegasnya.

Pendapat serupa datang dari analis CGS International, Hadi Soegiarto. Dalam risetnya, dia menyoroti inisiatif reformasi pasar modal Indonesia yang sudah jalan, termasuk daftar HSC itu. Tapi, menurutnya, bola sekarang ada di pihak MSCI.

"Kami menilai keputusan kini berada di tangan MSCI," tulis Hadi. Dia memperkirakan pembaruan akan dirilis sebelum pengumuman rebalancing indeks pada 12 Mei, kemungkinan di akhir April.

Hadi melihat peluang Indonesia untuk diturunkan statusnya kini semakin kecil berkat langkah reformasi tadi. Tapi, dia memperingatkan, bobot Indonesia di indeks MSCI berpotensi turun secara moderat. Soalnya, bisa aja ada saham yang dikeluarkan atau free float-nya berkurang.

Yang bikin was-was, kasus kayak gini di Indonesia belum pernah terjadi. Jadi, risiko hasil yang lebih buruk dari perkiraan tetap terbuka lebar. Kondisi ini bisa bikin investor, terutama yang main jangka pendek, jadi lebih hati-hati mendekati akhir April.

Dari sisi harga, CGSI memperkirakan skenario penurunan bobot yang moderat itu sebagian sudah tercermin di pasar. Mereka menghitung, potensi arus keluar dana pasif bisa sekitar USD1,1 miliar sampai USD2,1 miliar. Sekitar USD1,4 miliar di antaranya dinilai sudah terdiskon, sejalan dengan aksi jual investor asing yang terjadi dalam 2,5 pekan setelah peringatan MSCI akhir Februari lalu.

Jadi, meski ada rebound yang menggembirakan, suasana hati pasar masih diliputi ketidakpastian. Semuanya tergantung pada kata MSCI nanti.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar