Dana itu ia pakai untuk menambah stok barang. Omzetnya pun ikut naik. Kehadiran layanan perbankan di tokonya menciptakan simbiosis mutualisme yang jelas terlihat.
Cerita serupa datang dari Andre, seorang pedagang pala. Baginya, kemudahan terbesar adalah keamanan. Ia tak perlu lagi membawa uang hasil dagangan jauh-jauh untuk disetor.
“Biasanya uang hasil dagangan disetorkan di rekening lewat Ibu Ratti,” ucap Andre singkat.
Petani setempat, Delkiu Samalang, punya alasan lain. Selain faktor jarak yang lebih dekat, ada unsur kepercayaan yang kuat.
“Agen BNI itu lebih dekat, orang mau jangkau. Bu Ratti juga orangnya jujur, jadi kami saling bantu,” tuturnya.
Pada akhirnya, kehadiran BNI Agen46 di pulau ini lebih dari sekadar titik layanan. Ia menunjukkan bahwa inklusi keuangan bisa diwujudkan dengan pendekatan komunitas. Dengan dukungan pembiayaan yang produktif, harapannya fondasi ekonomi warga bisa menguat secara alami dan berkelanjutan. Perubahan kecil di Pulau Lembeh ini mungkin bisa jadi contoh untuk daerah kepulauan lainnya.
Artikel Terkait
Masjid Bergaya Kelenteng di Jakarta Timur, Kisah Perjalanan Spiritual Sang Pendiri
Ketua DPRD DKI Nilai Anggaran Belum Efektif Tekan Pengangguran yang Picu Kriminalitas
Penganiaya Pegawai SPBU yang Mengaku Jenderal Ternyata Karyawan Rental dan Pengguna Narkoba
Polisi Bongkar Jaringan SMS Phishing e-Tilang Palsu yang Dikendalikan dari China