Kerja sama ini cakupannya luas. Tak cuma soal bangun pabrik. Ruang lingkupnya meliputi investasi infrastruktur manufaktur, pengembangan energi terbarukan dan industri hijau, program pelatihan tenaga kerja, hingga riset bersama untuk teknologi mutakhir.
Keahlian mitra AS ini yang menarik. Mereka punya spesialisasi dalam proses plasmonik inovatif untuk produksi wafer ingot dan sel surya. Mereka juga ahli mengintegrasikan teknologi amplifikasi energi canggih, termasuk teknologi penyalaan fusi dan sumber energi berkelanjutan generasi baru. Kolaborasi semacam ini dinilai bisa membuka akses Indonesia ke teknologi paling depan dan sekaligus mempercepat tumbuhnya ekosistem inovasi di dalam negeri.
Bagi Airlangga, MoU ini jauh lebih dari sekadar transaksi keuangan. Ini soal posisi strategis.
“MoU ini bukan sekadar investasi finansial. Ini adalah bagian dari reposisi strategis Indonesia dalam arsitektur industri global. Kita ingin memastikan Indonesia menjadi bagian dari rantai nilai semikonduktor dunia, memperkuat kemandirian industri, dan meningkatkan daya tawar dalam rantai pasok global,” tegasnya.
Jadi, kerja sama ini bukan cuma tentang uang yang masuk. Ini tentang ambisi Indonesia untuk naik kelas dari konsumen menjadi pemain penting dalam industri strategis dunia.
Artikel Terkait
Iran Siapkan Opsi Kompromi dan Ancaman Jelang Putaran Baru Perundingan Nuklir dengan AS di Jenewa
Agrinas Bayar Uang Muka Rp21,58 Triliun untuk Truk India Meski DPR Minta Tunda
Mister Aladin Tawarkan Paket Tur Bangkok Hidden Gems Mulai Rp 6 Jutaan
Pemerintah Targetkan 24 Juta Sambungan Pipa Air Bersih Baru pada 2029