Momen Ramadan dan jelang Lebaran selalu diwarnai peningkatan aktivitas keuangan. Tak cuma transaksi biasa, pencairan THR pun ikut memicu pergerakan dana yang lebih deras. Nah, situasi ini rupanya juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. PT Bank Negara Indonesia (BBNI) secara khusus mengingatkan nasabahnya untuk ekstra waspada terhadap ancaman kejahatan siber, terutama modus phishing yang kian marak.
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menegaskan bahwa lonjakan transaksi berbanding lurus dengan peningkatan risiko serangan digital.
Menurut Okki, phishing masih jadi ancaman yang paling sering ditemui. Tekniknya klasik tapi terus berkembang: pelaku menyamar sebagai institusi resmi untuk mengelabui korban. Tujuannya jelas, mencuri data sensitif mulai dari username, password, sampai kode OTP dan informasi kartu kredit.
Caranya beragam. Bisa lewat email yang tampak meyakinkan, SMS mendadak, telepon, atau bahkan pesan di media sosial. Intinya, mereka berusaha membuat korban mengklik tautan palsu atau membocorkan informasi pribadi tanpa sadar.
Yang bikin khawatir, phishing ini cuma pintu masuk. Okki memperingatkan, dari sini bisa berujung pada pencurian identitas atau pengambilalihan akun yang merugikan. Bahkan, dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan, serangan sekarang lebih tertarget dan sulit dibedakan dari aslinya.
Artikel Terkait
China Larang Ekspor ke 20 Perusahaan Jepang, Sebut Ancaman Keamanan Nasional
Anthropic Tuduh Tiga Perusahaan AI China Curi Data untuk Latih Model
Indonesia dan Arm Jalin Kerja Sama Strategis untuk Kuasai Teknologi Desain Chip
Menhub Proyeksikan Puncak Mudik Lebaran 2026 pada 18 Maret