Jakarta – Antrian sudah mengular sejak pagi di Masjid Sunda Kelapa, Menteng. Mereka datang dengan satu harapan: menghapus tinta di kulit mereka, tanpa biaya sepeser pun. Program "Hapus Tato Gratis" dari Baznas DKI Jakarta itu kembali digelar, Selasa (24/2/2026), dan sambutannya luar biasa ramai.
Warga dari berbagai penjuru Ibu Kota dan sekitarnya memadati lokasi. Ada yang datang sendirian, ada yang ditemani. Wajah-wajah penuh harap itu mengantre dengan sabar, menunggu panggilan untuk proses penghapusan tato. Bagi banyak peserta, ini lebih dari sekadar urusan kulit. Ini tentang memulai babak baru.
Ya, program sosial ini memang dirancang untuk mereka yang ingin berubah. Prosesnya dilakukan secara medis, tentu saja, dengan melibatkan tenaga kesehatan profesional. Jadi, bukan sekadar hapus, tapi juga aman.
Di sisi lain, antusiasme masyarakat seperti Fransiskus Jelatu menunjukkan betapa program semacam ini ditunggu. Bagi Fransiskus, momen ini adalah sebuah transformasi.
“Ini pengalaman pertama saya ikut program seperti ini. Harapannya sih, ya, jadi pribadi yang lebih baik lah dari tahun kemarin. Kebetulan ada kesempatan bagus dari Baznas, jadi saya ambil. Istilahnya, ini langkah awal buat perubahan,” ujar Fransiskus.
Harapan Baznas DKI Jakarta jelas. Mereka ingin program ini bisa jadi pembuka jalan. Bantuan tidak hanya bersifat fisik menghilangkan tato tapi juga memberi semangat dan dukungan moral. Agar setiap peserta punya keyakinan lebih kuat untuk menjalani hidup yang positif setelahnya.
Geliat kegiatan di Masjid Sunda Kelapa hari itu punya ceritanya sendiri. Bukan cuma tentang laser menghapus tinta, tapi tentang tekad banyak orang untuk berubah. Dan perubahan itu, rupanya, dimulai dari sebuah antrian di Jakarta Pusat.
Editor: jts/raa
Artikel Terkait
Polri Cabut Moratorium Sirine dan Rotator Khusus untuk Patroli Jalan Tol
Purnapaskibraka 2025 Ditetapkan sebagai Duta Pancasila Usai Prosesi Penurunan Duplikat Bendera Pusaka
Hampir 40 Ribu Kendaraan Melintas di Puncak dalam 24 Jam, Polri Terapkan One Way
Pembangunan 2.603 Hunian Tetap bagi Korban Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar Terus Dikebut