Nyatanya, negosiasi jalan di tempat. Sudah dua putaran digelar di Oman dan Swiss dalam sebulan terakhir. Hasilnya? Nihil. Trump bahkan memberi ultimatum keras: Iran punya waktu 15 hari untuk mencapai kesepakatan. Dengan nada frustrasi, dia mempertanyakan mengapa Teheran belum juga “menyerah” meski tekanan militer sudah sedemikian besar.
Di sisi lain, sosok Reza Pahlavi sendiri menarik. Dia adalah cucu dari Shah Iran terakhir yang digulingkan oleh Revolusi Islam 1979. Dalam sebuah konferensi keamanan di Munich, Pahlavi pernah menyatakan kesiapannya untuk memimpin Iran menuju transisi demokrasi yang sekuler. Pertemuannya dengan utusan Trump memberi sinyal kuat bahwa oposisi di luar Iran mulai dilihat sebagai bagian dari skenario politik.
Jadi, apa arti semua ini? Pertemuan dengan Pahlavi, ultimatum, dan pengerahan pasukan besar-besaran seolah menyusun sebuah puzzle yang sama. Spekulasi tentang perubahan rezim, yang dulu dianggap tabu, kini terdengar semakin nyaring. Langkah selanjutnya Trump akan menentukan apakah ketegangan ini berujung pada perundingan, atau justru pada sebuah konfrontasi yang lebih dalam.
Artikel Terkait
Menteri ESDM: Kenaikan Harga Minyak ke US$100 Tak Perlebar Defisit APBN
Seratus Personel Gabungan Basmi Ikan Sapu-sapu di Kali Cideng
Sekretaris Kabinet Konfirmasi Rencana Kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia
KPK Tangkap Bupati Tulungagung dalam Operasi Tangkap Tangan