Nyatanya, negosiasi jalan di tempat. Sudah dua putaran digelar di Oman dan Swiss dalam sebulan terakhir. Hasilnya? Nihil. Trump bahkan memberi ultimatum keras: Iran punya waktu 15 hari untuk mencapai kesepakatan. Dengan nada frustrasi, dia mempertanyakan mengapa Teheran belum juga “menyerah” meski tekanan militer sudah sedemikian besar.
Di sisi lain, sosok Reza Pahlavi sendiri menarik. Dia adalah cucu dari Shah Iran terakhir yang digulingkan oleh Revolusi Islam 1979. Dalam sebuah konferensi keamanan di Munich, Pahlavi pernah menyatakan kesiapannya untuk memimpin Iran menuju transisi demokrasi yang sekuler. Pertemuannya dengan utusan Trump memberi sinyal kuat bahwa oposisi di luar Iran mulai dilihat sebagai bagian dari skenario politik.
Jadi, apa arti semua ini? Pertemuan dengan Pahlavi, ultimatum, dan pengerahan pasukan besar-besaran seolah menyusun sebuah puzzle yang sama. Spekulasi tentang perubahan rezim, yang dulu dianggap tabu, kini terdengar semakin nyaring. Langkah selanjutnya Trump akan menentukan apakah ketegangan ini berujung pada perundingan, atau justru pada sebuah konfrontasi yang lebih dalam.
Artikel Terkait
Kemlu Pastikan 45 WNI di Meksiko Aman Usai Operasi Militer Tewaskan Bos Kartel
Timnas Indonesia Bisa Naik ke Peringkat 118 Dunia Jika Juara FIFA Series 2026
Manchester United Tak Terkalahkan di 2026, Posisi Keempat dengan Satu Laga Tertunda
Polisi Amankan 11 Motor Geng yang Buka Paksa Portal JLNT Casablanca