Nah, kalau dilihat dari datanya, pergerakan tertinggi justru terjadi di Stasiun Cikeusal. Ada 3.730 penumpang naik dan 3.511 yang turun di sana. Angka ini sebenarnya tak terlalu mengejutkan. Cikeusal memang dikenal sebagai titik distribusi utama untuk berbagai komoditas lokal. Mulai dari hasil pertanian segar, aneka olahan makanan, sampai produk kerajinan tangan semuanya banyak yang dikirim dari sini ke Serang, Cilegon, dan Merak.
Kereta ini sendiri adalah hasil kreasi anak bangsa, dikerjakan sepenuhnya oleh tenaga teknis internal Balai Yasa Surabaya Gubeng. Proses modifikasinya cukup detail. Mereka menata ulang interior, mengatur ruang bagasi agar lebih tertib dan terpisah, tidak lupa memperkuat aspek keselamatan. Akses naik-turun di beberapa stasiun juga disesuaikan. Semua pertimbangan teknis itu tentu saja berpijak pada satu hal: kebutuhan nyata pengguna yang sehari-hari membawa barang dagangan dalam volume lumayan banyak.
Secara teknis, kereta ini punya 73 tempat duduk dilengkapi area bagasi khusus. Ia beroperasi 14 kali per hari bolak-balik antara Merak dan Rangkasbitung dan melayani 11 stasiun di sepanjang lintasannya. Agar tidak semrawut, setiap penumpang dibatasi membawa maksimal dua koli barang, dengan ukuran standar 100 cm x 40 cm x 30 cm.
Di sisi lain, layanan kolaborasi antara KAI Group dan Ditjen Perkeretaapian melalui skema PSO (Public Service Obligation) ini punya tarif yang sangat terjangkau. Cuma Rp3.000 per orang, sama seperti tarif KRL umum. Harapannya jelas: petani dan pedagang kecil yang menggantungkan distribusi hasil usahanya pada transportasi rel, tidak terbebani biaya tinggi.
Artikel Terkait
Ronaldo Diduga Ucapkan Bismillah Sebelum Eksekusi Penalti, Tuai Sorotan
Lurah Kalisari Minta Maaf, Petugas Diberi Sanksi Usai Unggah Foto AI untuk Laporan Parkir Liar
Libur Panjang Paskah 2026: 340 Ribu Penumpang Padati Kereta Jarak Jauh di Daop 1 Jakarta
Cara Cek Penerima PKH Tahap 2 dan Besaran Bantuannya