BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 2026 Capai 4,9-5,7 Persen

- Kamis, 19 Februari 2026 | 15:50 WIB
BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 2026 Capai 4,9-5,7 Persen

Analisis BI mengidentifikasi beberapa pilar utama yang akan menopang ekspansi ekonomi. Di sisi permintaan, konsumsi rumah tangga diproyeksikan tetap tangguh. Peningkatan ini didukung oleh program stimulus pemerintah, kebijakan moneter yang akomodatif, serta ekspektasi konsumen yang terus membaik. Aktivitas ekonomi pada momen-momen penting seperti Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, dan Idulfitri 1447 H di awal tahun juga diperkirakan memberikan dorongan signifikan.

Sementara itu, dari sisi investasi, prospeknya juga cukup cerah. Pertumbuhan investasi diprakirakan menguat, didorong oleh realisasi anggaran pemerintah untuk proyek-proyek strategis, termasuk program hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA). Kepercayaan dunia usaha yang terus pulih pasca pandemi menjadi faktor pendukung lain yang turut diperhitungkan dalam proyeksi ini.

Strategi Sinergis untuk Ketahanan Jangka Panjang

Mencapai target pertumbuhan di tengah ketidakpastian global tentu memerlukan pendekatan yang terkoordinasi. Bank Indonesia menyadari hal ini dan menekankan pentingnya kolaborasi erat antar lembaga. Perry Warjiyo menggarisbawahi komitmen BI untuk terus memperkuat bauran kebijakannya guna menciptakan fondasi pertumbuhan yang berdaya tahan.

Pernyataan ini mengisyaratkan pendekatan kehati-hatian sekaligus optimisme. Di satu sisi, BI tetap waspada terhadap dinamika eksternal yang bergejolak. Di sisi lain, kepercayaan diri itu muncul dari fundamental ekonomi domestik yang dinilai semakin kokoh, ditambah dengan ruang kebijakan yang masih tersedia untuk merespons berbagai skenario ke depan. Proyeksi ini pada akhirnya bukan hanya tentang angka, melainkan juga tentang keyakinan terhadap ketahanan dan momentum pemulihan ekonomi Indonesia.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar