Untuk sekolah di wilayah dengan mayoritas pelajar Muslim, makanan yang disalurkan berupa pangan tahan lama yang dapat dibawa pulang untuk dikonsumsi saat berbuka. "Yang pertama, untuk anak sekolah yang mayoritas di daerah puasa, itu makanannya akan berupa makanan yang tahan lama ya, yang untuk dibawa pulang dan untuk dikonsumsi saat buka," tuturnya.
Sebaliknya, di daerah dengan mayoritas penduduk non-Muslim, penyaluran MBG berjalan normal seperti hari biasa. Pelajar di wilayah tersebut dapat menyantap makanan segar pada jam makan yang telah ditentukan.
"Kemudian untuk anak sekolah di daerah yang mayoritas tidak puasa, pelayanannya normal ya, dan seperti biasa makan segar di jam biasa karena mayoritas tidak puasa," lanjut Dadan.
Pelayanan Normal untuk Kelompok Rentan dan Penyesuaian Waktu di Pesantren
Kelompok penerima manfaat lain seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita tetap mendapatkan pelayanan MBG secara normal. Bantuan biasanya disalurkan langsung ke tingkat lingkungan tempat tinggal mereka.
"Kemudian untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, itu pelayanannya juga normal," ujarnya.
Sementara itu, mekanisme khusus diterapkan untuk lingkungan pesantren. Agar lebih sesuai dengan ritme kegiatan santri selama Ramadan, waktu penyaluran MBG digeser menjadi sore hari, menjelang waktu berbuka puasa.
"Sementara untuk SPPG yang ada di dalam pesantren dan penerima manfaatnya juga di pesantren, maka pelayanan normal tetapi waktunya digeser ke sore hari menjelang puasa," pungkas Dadan Hindayana.
Artikel Terkait
Arus Balik H+7, Jasa Marga Berlakukan Contraflow di Tol Jakarta-Cikampek
Pemprov DKI Siap Ikuti Arahan Pusat Terkait WFH/WFA
Justin Hubner Tangkap Ambisi Besar Pelatih Baru John Herdman untuk Timnas Indonesia
SoftBank Amankan Pinjaman USD 40 Miliar untuk Perkuat Investasi di OpenAI