Pernyataan Wali Kota Usai Insiden
Menanggapi video viral tersebut, Tri Adhianto menegaskan bahwa penertiban telah didahului oleh proses sosialisasi dan imbauan kepada para pedagang. Ia menekankan bahwa pendekatan persuasif tetap menjadi prioritas dalam pelaksanaan tugas di lapangan.
"Tentu sudah ada imbauan sebelumnya petugas jadi kami minta untuk dapat melakukan secara persuasif," ucap Tri.
Lebih lanjut, Wali Kota menyatakan bahwa ancaman fisik seperti golok bukanlah hal yang paling dikhawatirkannya. Kekhawatiran yang lebih besar justru terletak pada pembiaran terhadap pelanggaran yang terjadi secara terus-menerus, yang dapat menumbuhkan persepsi keliru di masyarakat.
"Saya bukan khawatir kepada goloknya tetapi khawatir jika masyarakat sering melanggar peraturan dan ini akan menjadi kebiasaan. Lama-lama jadi pembiaran, akhirnya para pelanggar merasa dirinya paling benar," kata dia.
Menurut analisisnya, kemarahan yang meledak dari warga tersebut merupakan akumulasi dari pola pembiaran yang berlangsung dalam waktu lama. Ketika penindakan akhirnya dilakukan, akumulasi ketidakpuasan itu menemukan momentum untuk meledak.
"Nah kemarahan ini lah bentuk akumulasi pembiaran selama bertahun-tahun ketika nggak pernah ditindak," tuturnya.
Artikel Terkait
Arus Balik Lebaran 2026: Kedatangan Penumpang di Stasiun Jakarta Capai 52.471 Orang
OJK Prediksi Dua hingga Tiga Bank Naik Kelas ke KBMI 4 pada 2026
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts and Nevis, Beckham Putra Siap Perjuangkan Tempat
Marshanda Dukung Proses Pencarian Jati Diri Putrinya Lepas Hijab