Distribusi untuk Jabar sendiri dibagi dalam dua gelombang. Periode pertama berlangsung dari Januari sampai Maret, dan yang kedua pada Juli-Agustus. Masing-masing periode mendapat jatah 75.500 dosis. Untuk gelombang Januari lalu, realisasinya sudah 60.000 dosis. Sisanya? Akan menyusul secara bertahap.
Di sisi lain, Hendra menekankan satu hal yang tak kalah penting. Pelaksanaan vaksinasi, bagaimanapun, tidak bisa berdiri sendiri. Ini harus berjalan beriringan dengan penerapan biosekuriti yang ketat dan konsisten. Biosekuriti inilah yang menjadi tameng utama untuk mencegah virus masuk dan menyebar entah lewat manusia, peralatan, kendaraan, atau lalu lintas ternak yang padat.
“Vaksinasi dan biosekuriti merupakan satu kesatuan dalam memutus rantai penularan PMK,” tegasnya.
“Oleh karena itu, upaya vaksinasi harus dibarengi dengan penerapan biosekuriti yang disiplin dan berkelanjutan.”
Jawa Barat diprioritaskan bukan tanpa alasan. Populasi ternaknya tinggi, lalu lintas perdagangan dan perpindahan hewannya juga sangat intens. Kombinasi faktor-faktor itulah yang membuat wilayah ini rentan dan perlu penanganan ekstra. Target 4 juta dosis secara nasional adalah langkah strategis, tapi di lapangan, keberhasilannya akan sangat bergantung pada koordinasi dan kedisiplinan.
Artikel Terkait
Analis Prediksi Harga Pertalite Berpotensi Naik 10-15 Persen
KAI Daop 1 Jakarta Siapkan 200 Ribu Kursi untuk Periode Arus Balik Lebaran
Arus Balik Lebaran 2026 Belum Reda, 52 Ribu Penumpang Tiba di Stasiun Jakarta
Bapanas Perkuat Cadangan Pangan Antisipasi Godzilla El Nino 2026