Kabarnya, pasar membaca ini sebagai sinyal kebijakan moneter AS yang mungkin lebih ketat. Reaksinya instan: harga emas spot anjlok. Pada awal pekan ini, harga bahkan sempat terperosok hingga ke level USD 4.403,24 per ounce koreksi yang cukup tajam.
Saat ini, emas tampak mencari keseimbangan baru. Pergerakannya sudah lebih stabil, diperdagangkan di kisaran USD 4.960 per ounce. Mata semua pelaku pasar kini tertuju ke arah kebijakan apa yang akan diambil The Fed ke depan.
Di sisi lain, cerita di dalam negeri China sendiri agak berbeda. Menurut China Gold Association, konsumsi emas secara keseluruhan justru turun 3,75 persen pada 2025, menjadi 950 metrik ton. Ini adalah penurunan untuk tahun kedua beruntun.
Meski konsumsi total turun, ada pola menarik yang muncul. Permintaan untuk emas batangan dan koin justru meroket! Pembelian dalam bentuk fisik ini melonjak 35,14 persen sepanjang 2025. Kini, lebih dari separuh konsumsi emas nasional China disumbang oleh kedua produk ini. Rupanya, minat masyarakat biasa terhadap emas sebagai penyimpan nilai justru semakin menjadi.
Perlu diingat, langkah akumulasi PBOC ini sempat terhenti sebentar. Setelah membeli terus selama 18 bulan hingga Mei 2024, mereka berhenti. Tapi jedanya hanya enam bulan. Pada November 2024, bank sentral itu kembali membuka keran pembelian dan terus konsisten hingga awal tahun 2026 ini. Sebuah komitmen yang patut dicermati.
Artikel Terkait
Menkeu Tegaskan Indonesia Belum dalam Kondisi Darurat Energi
Indonesia Bawa Agenda Prioritas ke Konferensi Tingkat Menteri WTO di Kamerun
Menkeu Purbaya Bantah Isu Resesi, Sebut Analisis Ekonom Tak Berdasar
Kemensos Pangkas Anggaran Non-Prioritas, Bansos dan Penanganan Bencana Tetap Berjalan