Isu resesi yang belakangan ramai dibicarakan langsung dibantah keras oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Menurutnya, prediksi-prediksi mencemaskan dari sejumlah ekonom itu kurang berdasar. Bahkan, bisa dibilang analisisnya tidak memadai.
Narasi seperti itu, tegas Purbaya, cuma bikin resah masyarakat. Di sisi lain, sentimen negatif yang terus digoreng bisa mengganggu stabilitas persepsi publik. Situasinya jadi tidak sehat.
Purbaya menegaskan pemerintah sebenarnya terbuka dengan kritik. Tapi ada catatannya. Kritik itu harus punya dasar yang kuat data dan analisis rasional, bukan sekadar spekulasi. Pernyataan yang sembarangan dinilainya berbahaya, bisa mengoyak stabilitas ekonomi kita.
“Saya bukannya anti kritik, tapi jangan bilang ekonomi akan hancur,”
Ucapnya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu lalu. Ia khusus menyoroti analisis yang menyebut krisis bakal melanda dalam hitungan dua bulan.
Lantas, dari mana datangnya prediksi suram itu? Rupanya, sebagian pihak melihat lonjakan ekstrem harga minyak dunia, yang konon bisa tembus USD200 per barel. Asumsi ini mereka kaitkan dengan konflik global yang masih abu-abu, belum jelas ujung pangkalnya.
Namun begitu, Purbaya menilai pendekatan tersebut terlalu sempit. Terlalu spekulatif. Analisis ekonomi yang baik, menurutnya, harus mempertimbangkan banyak faktor risiko. Jangan lupa, dampak kebijakan pemerintah juga harus masuk dalam kalkulasi.
Artikel Terkait
Menkeu Tegaskan Indonesia Belum dalam Kondisi Darurat Energi
Indonesia Bawa Agenda Prioritas ke Konferensi Tingkat Menteri WTO di Kamerun
Kemensos Pangkas Anggaran Non-Prioritas, Bansos dan Penanganan Bencana Tetap Berjalan
Korlantas Perluas Contraflow Jadi Dua Lajur di Tol Jakarta-Cikampek