Menkeu Purbaya Bantah Isu Resesi, Sebut Analisis Ekonom Tak Berdasar

- Rabu, 25 Maret 2026 | 19:40 WIB
Menkeu Purbaya Bantah Isu Resesi, Sebut Analisis Ekonom Tak Berdasar

Isu resesi yang belakangan ramai dibicarakan langsung dibantah keras oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Menurutnya, prediksi-prediksi mencemaskan dari sejumlah ekonom itu kurang berdasar. Bahkan, bisa dibilang analisisnya tidak memadai.

Narasi seperti itu, tegas Purbaya, cuma bikin resah masyarakat. Di sisi lain, sentimen negatif yang terus digoreng bisa mengganggu stabilitas persepsi publik. Situasinya jadi tidak sehat.

Purbaya menegaskan pemerintah sebenarnya terbuka dengan kritik. Tapi ada catatannya. Kritik itu harus punya dasar yang kuat data dan analisis rasional, bukan sekadar spekulasi. Pernyataan yang sembarangan dinilainya berbahaya, bisa mengoyak stabilitas ekonomi kita.

“Saya bukannya anti kritik, tapi jangan bilang ekonomi akan hancur,”

Ucapnya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu lalu. Ia khusus menyoroti analisis yang menyebut krisis bakal melanda dalam hitungan dua bulan.

Lantas, dari mana datangnya prediksi suram itu? Rupanya, sebagian pihak melihat lonjakan ekstrem harga minyak dunia, yang konon bisa tembus USD200 per barel. Asumsi ini mereka kaitkan dengan konflik global yang masih abu-abu, belum jelas ujung pangkalnya.

Namun begitu, Purbaya menilai pendekatan tersebut terlalu sempit. Terlalu spekulatif. Analisis ekonomi yang baik, menurutnya, harus mempertimbangkan banyak faktor risiko. Jangan lupa, dampak kebijakan pemerintah juga harus masuk dalam kalkulasi.

Ia lalu memberikan sudut pandang lain. Katakanlah skenario terburuk itu benar-benar terjadi harga minyak melambung tinggi dan konflik makin menjadi. Kalau sudah begitu, dampaknya akan global. Semua negara bakal kena imbasnya, bukan cuma Indonesia.

“Kalau itu terjadi, seluruh negara pasti terkena dampaknya,”

Jelasnya. Maka, analisis yang hanya menyasar satu negara jadi terasa kurang relevan. Penting untuk melihat peta ekonomi global secara utuh.

Lebih jauh, Purbaya menekankan pentingnya analisis yang komprehensif. Ia meminta para ekonom untuk merujuk pada data historis dan menggunakan asumsi-asumsi yang realistis. Pendekatan menyeluruh adalah kunci untuk membaca gejolak yang terjadi. Dan lagi, kebijakan pemerintah harus jadi variabel utama, bukan diabaikan.

Di tengi segala kekhawatiran, Purbaya justru terlihat optimistis. Fondasi ekonomi nasional, klaimnya, masih relatif kuat. Pemerintah pun terus mempersiapkan berbagai kebijakan untuk menghadapi tekanan global yang makin menjadi. Bahkan, dibandingkan dengan Indonesia, beberapa negara lain justru menghadapi tekanan yang lebih berat.

Dengan langkah-langkah strategis, pemerintah yakin bisa mengelola berbagai risiko yang ada. Pesannya ke masyarakat pun sederhana: tetap tenang dan jangan mudah termakan isu.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar