Bank sentral China, People's Bank of China (PBOC), ternyata belum berhenti mengakumulasi logam kuning. Di bulan Januari 2026 ini, mereka kembali mencatatkan pembelian emas. Ini sudah bulan ke-15 berturut-turut, sebuah rekor panjang yang menunjukkan strategi yang jelas di tengah pasar yang bergejolak.
Data resmi dari PBOC menunjukkan, kepemilikan emas mereka naik tipis menjadi 74,19 juta troy ounce di akhir Januari. Angkanya naik dari 74,15 juta ounce di bulan sebelumnya. Tapi yang menarik, nilai cadangannya justru melonjak drastis.
Nilai cadangan emas China melesat ke angka USD 369,58 miliar. Bandingkan dengan akhir Desember 2025 yang 'hanya' USD 319,45 miliar. Kenaikan fantastis ini, tentu saja, sejalan dengan reli gila-gilaan harga emas dunia sepanjang Januari lalu.
Emas, aset safe haven klasik itu, sempat mengalami reli spekulatif yang kuat. Harganya nyaris mencetak rekor baru, mendekati level psikologis USD 5.600 per ounce. Suasana saat itu memang mencekam, dengan ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global yang mendorong investor berlindung.
Namun begitu, pesta itu tak berlangsung lama. Sentimen pasar berbalik seratus delapan puluh derajat setelah pengumuman dari Washington. Di akhir Januari, Kevin Warsh ditunjuk sebagai Ketua Federal Reserve AS yang baru.
Artikel Terkait
Menkeu Tegaskan Indonesia Belum dalam Kondisi Darurat Energi
Indonesia Bawa Agenda Prioritas ke Konferensi Tingkat Menteri WTO di Kamerun
Menkeu Purbaya Bantah Isu Resesi, Sebut Analisis Ekonom Tak Berdasar
Kemensos Pangkas Anggaran Non-Prioritas, Bansos dan Penanganan Bencana Tetap Berjalan