TEL AVIV Rilisnya jutaan dokumen Jeffrey Epstein oleh Departemen Kehakiman AS bukan cuma mengguncang kalangan elite global. Di Israel, gelombangnya membuka kembali luka lama, menghidupkan rivalitas politik yang sudah bertahun-tahun membara.
Nama Ehud Barak, mantan Perdana Menteri Israel, muncul dalam dokumen itu. Dan Benjamin Netanyahu, sang PM petahana, langsung menyambutnya dengan serangan yang keras. Bagi Netanyahu, ini bukan sekadar soal Epstein. Ini adalah peluang untuk mengukuhkan narasi yang selama ini ia pegang: bahwa Barak adalah sosok yang terus berusaha menjatuhkannya.
Lewat sebuah unggahan di platform X, Netanyahu melontarkan tuduhan. Ia menyatakan bahwa hubungan Barak dengan Epstein memang tak membuktikan keterlibatan Israel sebagai negara. Namun begitu, kata Netanyahu, hal itu justru memperlihatkan masalah pribadi sang mantan pemimpin.
“Barak bekerja sama dengan kelompok kiri radikal anti-Zionis untuk menggulingkan pemerintah yang sah,”
tulis Netanyahu. Ia bahkan menyebut Barak telah "secara obsesif" berupaya merusak demokrasi Israel sejak kekalahannya dalam pemilu lebih dari dua dekade silam.
Perseteruan keduanya memang sudah jadi warna tetap di peta politik Israel. Barak, yang memimpin pada 1999-2001, dikenal sebagai pengkritik paling vokal Netanyahu. Beberapa tahun belakangan, ia terang-terangan menyerukan penggulingan pemerintahan koalisi sayap kanan itu, terutama menyoroti reformasi peradilan yang kontroversial dan penanganan perang di Gaza.
Netanyahu balik menuding. Menurutnya, Barak aktif baik secara terbuka maupun dari balik layar memicu demonstrasi besar dan kekacauan politik. Tuduhan ini muncul di saat yang genting bagi Netanyahu sendiri, yang tengah menghadapi tekanan berat akibat kasus korupsi dan kritik luas atas kebijakan dalam negerinya.
Lalu, bagaimana sebenarnya kaitan Barak dengan Epstein? Dari dokumen yang bocor, terungkap pertemuan mereka berlangsung beberapa kali pada 2015 dan 2016. Itu sudah bertahun-tahun setelah Epstein pertama kali dihukum atas kejahatan seksual.
Foto-foto Barak memasuki rumah Epstein di Manhattan sempat beredar dan memicu banyak pertanyaan. Barak sendiri selalu membantah terlibat dalam aktivitas ilegal apa pun.
Di sisi lain, pada pertengahan 2025 lalu, Barak justru ikut menandatangani petisi bersama ribuan tenaga medis Israel. Petisi itu mendesak pemerintah agar mengutamakan pembebasan sandera, bahkan jika harus menghentikan perang. Sebuah langkah yang kembali menunjukkan betapa tajamnya perbedaan pandangan dengan Netanyahu.
Skandal Epstein, di luar hiruk-pikuk globalnya, ternyata menyiram bensin pada api lama di Israel. Ia mengubah dokumen hukum menjadi amunisi politik, dalam sebuah persaingan yang tampaknya tak akan padam dalam waktu dekat.
Artikel Terkait
BGN Siapkan Empat Skema Penyesuaian Makan Bergizi Gratis Selama Ramadan
Pemprov DKI Gelar Kerja Bakti Massal Gerakan Jaga Jakarta Bersih Serentak
Ivar Jenner Ungkap Kesan Positif Usai Gabung Dewa United
Herdman: Suporter Kunci Benteng Kandang Timnas Jelang FIFA Series 2026