Dengan suara gemuruh alat berat, kawasan di Banyuwangi, Jawa Timur, akhirnya menyaksikan momen penting. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara resmi memulai pembangunan pabrik bioetanol terintegrasi, sebuah langkah konkret hilirisasi yang menyentuh sektor pertanian sekaligus energi.
Rosan Roeslani, sang CEO Danantara, tampak antusias. Baginya, ini lebih dari sekadar proyek investasi belaka.
"Kita baru saja melakukan hal yang sangat penting," ujarnya, Sabtu (7/2/2026). "Dampaknya akan luas, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional."
Dia menegaskan, program ini merupakan bagian dari 18 agenda hilirisasi pemerintah yang tersebar di penjuru negeri. Targetnya jelas: menciptakan nilai tambah riil bagi perekonomian, membuka lapangan kerja, dan tentu saja, menambah pundi-pundi pendapatan negara.
Di sisi lain, dari kacamata pelaku energi, proyek ini punya arti strategis. Agung Wicaksono, Direktur Transformasi dan Kelanjutan Bisnis Pertamina, membeberkan detailnya. Pabrik yang dibangun di lahan seluas 10 hektare itu akan mengolah molase, limbah dari produksi gula, menjadi bahan bakar yang lebih bersih.
Kapasitasnya tak main-main: 30 ribu kiloliter bioetanol per tahun.
"Kolaborasi kami dengan Pertamina Supporting New and Renewable Energy dan SGN di Banyuwangi ini diharapkan bisa mendorong swasembada energi," jelas Agung. "Caranya ya lewat penguatan ekonomi rakyat."
Artikel Terkait
Menkeu: Program Makan Bergizi Gratis Bakal Dikurangi Jadi 5 Kali Seminggu
Prabowo Perintahkan Percepatan Proyek Pengolahan Sampah Jadi Listrik
Pimpinan Baru OJK Langsung Gelar Rapat Perdana Usai Dilantik di MA
Pemerintah Tetapkan WFH Wajib untuk Instansi, Imbauan untuk Swasta